Kisah Pahit Di Balik Sejarah Lomba Panjat Pinang

JogjaUpdate.com (14/08/18), Setiap bulan Agustus tiba, kita selalu bersiap-siap untuk menyambut perayaan hari kemerdekaan. Banyak lomba-lomba digelar dalam rangka Agustusan, salah satunya adalah lomba panjat pinang. Tapi tahukah kamu, di balik sejarah lomba panjat pinang tersimpan kisah sedih.

Sejarah lomba panjat pinang di Indonesia diduga berkembang sejak zaman penjajahan Belanda. Menurut Wikipedia, zaman dulu lomba panjat pinang digelar oleh orang Belanda. Dan rakyat Indonesia yang menjadi pesertanya.

Baca Juga: Sejarah Kacamata Dan Perkembangannya

Sejak zaman penjajahan Belanda hingga kini, tidak ada yang berubah dari perlombaan ini. Masih saja para peserta berlomba-lomba untuk mendapatkan hadiah yang di gantung di atas batang pinang. Dari sumber lain, orang Belanda menyebut perlombaan ini dengan nama De Klimmast.

Sejak awal orang Belanda menyadari suatu makna dari permainan ini. Yaitu, orang yang berada di bawah akan terinjak-injak. Untuk mencapai sebuah tujuan, harus ada orang yang dikorbankan, yaitu yang berada di paling bawah.

Perlombaan ini adalah hiburan bagi orang Belanda. Mereka senang melihat orang-orang Indonesia harus bersusah payah untuk mendapatkan hadiah. Peserta lomba ini jadi bahan tertawaan oleh orang-orang Belanda.

Orang Indonesia senang mengikuti perlombaan ini, karena hadiahnya berupa makanan. Mereka rela merendahkan diri atau mungkin tidak tahu direndahkan demi mendapatkan makanan.

Baca Juga: Sejarah Nama Yogyakarta

Namun apakah lomba panjat pinang berasal dari orang Belanda? Ternyata tidak, sejarah lomba panjat pinang ternyata berasal dari China.

Lomba semacam ini bermula sejak Dinasti Ming (1368 – 1644) yang populer di wilayah Fujian, Guangdong dan Taiwan. Lomba yang dikenal dengan nama qiang-gu ini berkaitan dengan Festival Hantu atau Cioko.

Namun lomba semacam ini pernah dilarang oleh Dinasti Qing (1644 – 1911) karena sering terjadi korban jiwa. Ketika Taiwan di bawah pendudukan Jepang, perlombaan panjat pinang iki kembali dilakukan. Bahkan hingga kini masih juga dilakukan saat Festival Hantu.

Bedanya di budaya China, perlombaan ini bukan ditujukan untuk merendahkan para pesertanya. Melainkan dilakukan terkait dengan perayaan Festival Hantu.

Selain perlombaan ini, banyak juga ditampilkan atraksi lain. Dari wayang Potehi, pemasangan boneka Raja Air, Raja Api, dan Raja Akhirat. Dan masih banyak lagi kemeriahan lainnya dalam perayaan ini.

Dari sini, kita ketahui kalau lomba panjat pinang yang kita lakukan dalam perayaan Agustusan adalah sambangsih warga China atau Tionghoa. Walaupun sempat disalah gunakan oleh orang-rang Belanda.

Baca Juga: Sejarah Emoji Yang Sering Dipakai Dalam Chat Hingga Social Media

Itulah sejarah lomba panjat pinang yang ternyata menyimpan kisah sedih bagi bangsa Indonesia.

Agung Pratnyawan on FlickrAgung Pratnyawan on GoogleAgung Pratnyawan on InstagramAgung Pratnyawan on Twitter
Agung Pratnyawan
Content Writer
Freelance Content Writer and Web Developer

Agung Pratnyawan

Freelance Content Writer and Web Developer

You May Also Like