Sejarah Gudeg Jogja, Masakan Tradisional Yang Melegenda

JogjaUpdate.com (18/12/17), Selama ini Jogja dikenal sebagai Kota Gudeg, karena masakan ini telah menjadi salah satu ikon. Namun tahukah kamu kalau Gudeg Jogja ini telah memiliki sejarah panjang. Dan tahukah kamu sejarah Gudeg Jogja dimulai dari mana dan sejak kapan menjadi populer seperti sekarang?

Baca: Sejarah Angkringan Jogja Atau Warung Sego Kucing

Menurut yang dimuat Gudeg.net, sejarah Gudeg dimulai sejak zamar penyerbuan Sultan Agung ke Batavia. Kala itu Gudeg menjadi bekal para pasukan Sultan Agung. Disebutkan pula Gudeg sebagai makanan Kraton Yogyakarta. Namun sejarah Gudeg Jogja versi ini belum dapat dibuktikan kebenarannya.

Sedangkan yang dimuat NationalGeographic.co.id (7/3/16), Murdijati Gardjito, seorang profesor yang menjabat sebagai peneliti di Pusat Kajian Makanan Tradisional (PKMT), Pusat Studi Pangan dan Gizi UGM, mengungkapkan sejarah Gudeg sudah dimulai sejak awal pendirian Kerajaan Mataram.

Menurut Murdijati Gardjito, Gudeg mulai dikenal sejak pembukaan lahan alas Mentaok atau daerah yang kini dikenal dengan nama Kotagede. “Saat pembangunan kerajaan Mataram di alas Mentaok, banyak pohon yang ditebang, dan di antaranya adalah pohon nangka, kelapa, dan tangkil atau melinjo,” jelasnya.

Setelah menebangi pohon tersebut dikumpulkanlah buah-buahan yang mereka temukan dan bisa dijadikan makanan. Terkumpulkan banyak buah nangka muda atau gori, kelapa, daun tangkil atau melinjo, yang dimasak para pekerja. Untuk memenuhi kebutuhan makanan banyak pekerja, nangka muda dimasak dalam jumlah banyak.

Nama gudeg disebut berasal dari kata mengaduk atau hangudeg. Nama waktu memasak gori yang berjumlah banyak tersebut, diperlukan alat pengaduk yang berbentuk menyerupai dayung perahu. Dan proses megagduk ini akhirnya menjadi nama hangudeg yang berkembang menjadi nama Gudeg.

Baca: Sejarah Nama Yogyakarta

Selain itu, sejarah Gudeg juga tercatat dalam karya sastra Jawa Serat Centhini. Dikisahkan pada tahun 1600-an Raden Mas Cebolang tengah singgah di pedepokan Pangeran Tembayat yang berada di wilayah Klaten. Saat itu Pangeran Tembayat menjamu tamunya yang bernama Ki Anom dengan beragam makanan, termasuk Gudeg.

Disebutkan lagi kalau Gudeg sebenarnya bukan makanan yang berasal dari lingkungan kerajaan, namun dari masyarakat. Namun demikian, untuk menjadi makanan tradisional yang tenar memerlukan proses panjang. Dan menurut Murdijati Gardjito pada awal abad 19 di Yogyakarta sebenarnya belum banyak orang berjualan Gudeg.

Hal ini disebabkan karena proses memasaknya membutuhkan waktu lama. “Saking istimewanya, karena proses memasaknya yang lama dan pada waktu itu belum banyak yang berjualan, gudeg sering dijadikan makanan nadzar, atau wujud rasa sukur. Seperti jika anak sedang sakit, akan diajak makan gudeg jika nanti telah sembuh,” cerita Murdijati Gardjito.

Barulah pada era awal kemerdekaan Indonesia, dari ide Presiden Soekarno saat membangun universitas di Yogyakarta (UGM), Gudeg mulai dipopulerkan kepada masyarakat. Dari situlah Gudeg kering mulai hadir dan dikenal banyak masyarakat baik dari Jogja maupun daerah lainnya.

Gudeg kering sendiri muncul dari banyaknya keinginan mahasiswa yang merantau kuliah di Jogja untuk menjadikan Gudeg sebagai oleh-oleh. Akhirnya muncul Gudeg kering yang dimasak di dalam kendil agar bisa bertahan lama. Kala itu munculah kampung sentra Gudeg Mbarek yang tidak jauh dari Kampus UGM.

Seiring berjalannya waktu, sektor wisata berkembang pesat di Jogja. Dan mulai banyak wisatawan yang juga menginginkan Gudeg sebagai oleh-oleh setelah mengunjungi Jogja. Dan inilah yang melatar belakangi munculnya sentra Gudeg baru di kawasan Wijilan pada era tahun 1970-an.

Baca: Apa Bedanya Gudeg Basah Dan Gudeg Kering

Perkembangan Gudeg pun tidak berhenti disini. Setelah populernya Gudeg Kering, Gudeg Basah pun tidak kalah populer. Apalagi ditunjang proses pengolahan yang lebih singkat dan cepat dari Gudeg Basah, membuat banyak penjual bermunculan. Gudeg Basah pun berkembang dengan munculnya varian Gudeg pedas seperti Gudeg Mercon.

Agung Pratnyawan on FlickrAgung Pratnyawan on GoogleAgung Pratnyawan on InstagramAgung Pratnyawan on Twitter
Agung Pratnyawan
Content Writer
Freelance Content Writer and Web Developer

Agung Pratnyawan

Freelance Content Writer and Web Developer

You May Also Like