Sejarah Angkringan Jogja Atau Warung Sego Kucing

JogjaUpdate (26/01/17), Pasti kamu tidak asing lagi dengan warung Angkringan, atau ada yang menyebut warung Sego Kucing (Nasi Kucing). Jika kamu sudah tahu, pasti penasaran dengan sejarah warung Sego Kucing atau Angkringan Jogja. Apakah Angkringan dahulu seperti Angkringan yang saat ini kita kenal?

Warung Angkringan ini sendiri banyak bertebaran disekitar Jawa Tengah dan Yogyakarta. Selain itu mulai banyak Angkringan yang masuk di kota-kota besar lainnya seperi Jakarta dan Surabaya. Berbeda dengan daerah lainnya, di Solo dan Klaten, Angkringan disebut dengan HIK yang merupakan singkatan dari “hidangan istimewa ala kampung”.

Menurut Wikipedia, nama Angkringan ini berasal dari Bahasa Jawa yauti kata Angkring. Kata Angkring ini berarti alat dan tempat jualan makanan keliling yang pikulannya berbentuk melngkung ke atas. Hal ini merujuk pada model Angkringan jaman dahulu yang masih menggunakan pikulan. Sedangkan Angkringan jaman sekarang lebih dikenal menggunakan gerobak dorongan.

Sedangkan menurut Yogyalagi.com, kata Angkringan ini juga dari kata Angkring dari kata Metangkling. Kata Metangkling ini merujuk pada posisi duduk santai dengan melipat sati kaki ke atas kursi. Hal ini banyak dikarenakan banyak orang-orang yang duduk Metangkling ketika menikmati sajian yang ada di warung Angkringan.

Mbah Pairo

Sejarah warung Angkringan ini tidak lepas dari sosok Mbah Pairo. Beliau disebut sebagai orang yang mempopulerkan bisnis kuliner berbentuk warung Angkringan di Jogja. Mbah Pairo ini adalah seorang pendatang dari Cawas, Klaten yang mencari peruntungan di Jogja sekitar tahun 1950-an. Ketika itu wilayah tempat tinggal beliau tandus dan gersang, sehingga tidak dapat diharapkan untuk pertanian.

Ketika memulai menjajakan makanan ini, Mbah Pairo menggunakan pikulan seadanya di emplasemen Stasiun Tugu Jogja. Dikala itu dimulailah menjajakan nasi yang dikenal dengan Sego Kucing atau Nasi Kucing. Penamaan ini terkait dengan jumlah porsi yang sedikit di setiap penyajiannya. Orang-orang menyebutnya porsi kucing, makanya dikenal dengan nama Sego Kucing atau Nasi Kucing.

Ketika menjajagan dagangannya di emplasemen Stasiun Tugu ini, angkringan Mbah Pairo dikenal dengan sebutan Ting-Ting Hik (dibacanya: Hek). Hal ini karena ketika menjajakan dagangan, beliau berteriak “Hiiik…Iyek”. Istilah inilah yang akhirnya terkenal di berbagai daerah seperti Solo maupun Klaten.

Lik Man

Angkringan Mbah Pairo ini berkembang pesat di sekitar tahun 1969. Dan akhirnya usaha ini diteruskan oleh Lik Man, putra Mbah Pairo. Ditangan Lik Man ini bisnis Warung Angkringan sempat berpindah-pindah lokasi. Namun hingga kini warung Angkringan yang dikelola Lek Man ini menempati lokasi utara Stasiun Tugu Jogja.

Angkringan Jogja Kini

Warung Angkringan Jogja ini banyak dikenal masyarakat karena harganya yang ramah dikantong. Walau dengan harga yang ekonomis, namun tetap memberikan makanan yang enak dilidah. Menu-menu makanan yang biasanya disediakan warung Angkringan ini biasanya Sego Kucing, gorengan, sate usus, dan sate telur puyuh. Selain makanan juga menyediakan menu minuman seperti: teh, jeruk, kopi, tape, wedang jahe dan susu.

Kini warung Angkringan model seperti ini telah banyak berdiri diberbagai sudut jalan Jogja. Bahkan banyak Angkringan yang naik kelas dari pinggir jalan ke tempat yang lebih mewah. Namun tetap saja mempertahankan ciri khas Gerobak Angkringan dalam menjajakan dagangannya.

Demikianlah Sejarah Angkringan Jogja untuk memperkaya wawasan kamu. Apa kamu suka ngankring juga?

sumber:

yogyalagi.com/2014/08/sejarah-warung-nasi-kucing-atau.html

wikipedia.org/wiki/Angkringan

Agung Pratnyawan on FlickrAgung Pratnyawan on GoogleAgung Pratnyawan on InstagramAgung Pratnyawan on Twitter
Agung Pratnyawan
Content Writer
Freelance Content Writer and Web Developer

Agung Pratnyawan

Freelance Content Writer and Web Developer

You May Also Like