JogjaUpdate.com ~ “Bajuku, Bajumu, Bhinneka in Fashion” sebuah playback theatre yang mengangkat kisah tentang pakaian daerah di Indonesia.
“Bajuku, Bajumu, Bhinneka in Fashion” menggunakan pendekatan Playback Theatre, sebuah bentuk teater partisipatif yang menghadirkan cerita-cerita tentang pakaian daerah dari berbagai latar budaya di Indonesia. Kisah dari para narasumber tentang filosofi, makna, serta pengalaman mereka dengan pakaian daerah yang dimiliki atau pernah dikenakan disusun menjadi adegan di panggung.
Pakaian daerah merupakan salah satu kekayaan budaya Indonesia yang terus bertahan dan berkembang di tengah perubahan zaman. Tidak hanya dikenakan dalam upacara adat atau perayaan budaya, berbagai unsur pakaian daerah kini juga hadir dalam dunia fashion modern melalui inovasi desain, pemilihan material, hingga cara pemakaiannya.
Adaptasi tersebut menunjukkan bahwa pakaian daerah bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan bagian dari identitas budaya yang terus hidup dan menemukan relevansinya dalam kehidupan masyarakat masa kini.
Berangkat dari dinamika tersebut, pertunjukan teater bertajuk “Bajuku, Bajumu, Bhinneka in Fashion” digelar.
Disutradarai oleh B. Verry Handayani, “Bajuku, Bajumu, Bhinneka in Fashion” menghadirkan beragam cerita tentang pakaian daerah yang tidak hanya menyimpan filosofi dan nilai kehidupan, tetapi juga pengalaman personal yang terus diwariskan dan dimaknai ulang dari generasi ke generasi.
“Baju daerah melambangkan kekayaan budaya Indonesia. Mungkin ada baiknya juga, sambil berusaha terus mengangkatnya ke level yg lebih luas, kita mengetahui cerita di sebaliknya, agar kebanggaan atas ke-Indonesia-an kita sebagai bangsa yg bhinneka, menjadi lebih bermakna,” tutur sutradara pertunjukan ini, Verry Handayani.
Mengusung semangat Bhinneka Tunggal Ika, pertunjukan teater “Bajuku, Bajumu, Bhinneka in Fashion” mempertemukan beragam suara dan pengalaman dari berbagai latar belakang budaya tentang pakaian yang menyimpan makna.
Melalui kisah-kisah yang hadir di atas panggung, penonton diajak memandang pakaian daerah sebagai jejak budaya yang menyimpan pengetahuan, nilai, dan pengalaman kolektif masyarakat Indonesia. Setiap helai kain menjadi ruang cerita yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini, sekaligus menunjukkan bagaimana keberagaman budaya tetap relevan dalam kehidupan sehari-hari.
Tidak hanya itu, penonton juga dilibatkan sebagai partisipan yang dapat berbagi pengalaman pribadi terkait memakai pakaian daerah maupun berbagai item pakaian yang lekat dengan kebiasaan sehari-hari. Sejumlah cerita di panggung diperankan oleh Davin Ezra Pradipta, Mailani Sumelang, Muhammad Dinu Imansyah, Regina Gandes Mutiary, Veronika Erlina Harimastuti.
Pertunjukan ini berkolaborasi dengan fashion desainer Luthfi Majid, pemilik Jenama Limaniac, yang menghadirkan perspektif fashion dalam melihat bagaimana pakaian daerah terus beradaptasi dan menemukan ruang baru di tengah perkembangan zaman.
“Bajuku, Bajumu, Bhinneka in Fashion” digelar pada Kamis dan Jumat, 25 dan 26 Juni 2026 di Ruang Galeri Pascasarjana ISI Yogyakarta Jalan Suryodiningratan No. 8, Mantrijeron, Kota Yogyakarta.
Selain pertunjukan teater, penonton juga dapat mengunjungi lapak yang menghadirkan berbagai produk artisan dan jasa bernuansa etnik. Lapak ini dapat diakses sebelum maupun setelah pertunjukan berlangsung, sehingga penonton memiliki kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan para pelaku usaha kreatif yang mengangkat kekayaan budaya melalui karya dan layanannya.
Sebagai bagian dari pengalaman acara, setiap penonton perlu menukar voucher yang dapat digunakan untuk mendapatkan penawaran khusus dari para peserta lapak.

Pertunjukan ini mendapat dukungan Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan dan LPDP melalui program Dana Abadi Kebudayaan, sekaligus menjadi bagian dari upaya menghadirkan praktik seni yang menghubungkan ekspresi budaya, kreativitas, dan partisipasi publik.
(260626/26)



