Kenapa Rumah Makan Padang Di Jogja Konsumennya Ngambil Sendiri Alias Prasmanan?

JogjaUpdate.com (7/12/17), Nasi Padang atau masakan Padang tidak akan ada habisnya untuk di bahas. Setelah masalah perbedaan porsi nasi padang dibungkus dan makan di tempat, kini ada keunikan lain. Kenapa Rumah Makan Padang di Jogja, konsumennya ngambil sendiri nasi dan lauknya? Alias prasmanan?

Baca: Keramaian Warganet Bahas Nasi Padang Dibungkus Dan Makan Di Tempat

Seperti ini jarang ditemukan di kota-kota lain, atau malah hanya ada di Jogja dan sekitarnya saja. Karena biasanya di Rumah Makan Padang, pelayan akan mengambilkan nasi dan lauk pauknya di ke atas piring konsumen. Atau Semua lauk pauk disajukan di atas meja konsumen.

Sedangkan Rumah Makan Padang di Jogja ada yang nasinya diambilkan pelayan, lalu konsumen ambil sendiri lauknya. Ada pula yang full prasmanan, konsumen datang ambil piring, nasi lauk-pauk yang mau disantap. Kenapa hal ini lebih banyak ditemukan di Jogja, dan tidak di daerah lain?

Ternyata ada beberapa teori yang dijelaskan Warganet untuk menjawab pertanyaan ini. Yang pertama, agar konsumen bisa menakar sendiri seberapa banyak ia mau makan. Sehingga bisa sesuai dengan takaran porsi masing-masing konsumen dan tidak ada makan yang terbuang karena tidak habis.

Teori ‘biar sesuai porsi masing-masing’ ini diungkapkan dua Warganet, yaitu akun Twitter @rois_reus dan @adrianus_lysti. “biar kenyang sesuai porsi perutnya masing2” tulis @rois_reus. “spy porsinya pas, dan tak ada yg terbuang” @adrianus_lysti.

Teori kedua adalah ‘Jogja kota Pelajar’, di mana banyak pelajar dan mahasiswa yang mau cari makan murah dan bisa kenyang. Rumah Makan padang akhirnya memberi mereka solusi dengan mengambil sendiri alias prasmanan. Dan memang benar, Rumah Makan Padang yang ngambil sendiri lebih sering ramai.

Baca: Tips Makan Hemat Di Warung Nasi Padang

Teori ‘Jogja Kota Pelajar’ ini disampaikan oleh Warganet dengan akun Twitter @d_prasetiyo. “Karena jogja kota pelajar yg mayoritas mahasiswa/anak kos. Kalo ada RM padang prasmanan pasti rame. Kenyang no 1 soal rasa belakangan” tulisnya di Twitter.

Teori ketiga adalah ‘Pelayan kewalahan melayani pelanggan’. Jadi ceritanya, Rumah Makan Padang di Jogja ini banyak digemari masyarakat, baik makan di tempat maupun dibungkus bawa pulang. Pelayannya kewalahan, akhirnya cuma melayani yang dibungkus dan yang makan di tempat disuruh ambil sendiri.

Teori ‘Pelayan kewalahan melayani pelanggan’ ini diungkapkan oleh akun Twitter @denipp. “Awal mulanya dulu diambilkan nasinya. Tapi, karna yang makan dan bungkus yang berdatangan banyak. Dan pegawainya kewalahan, akhirnya disuruhlah yang makan suruh ambil nasi sendiri. Di RM Sederhana masih diambilkan dan bisa minta dihidangkan” tulisnya.

 

Agung Pratnyawan on FlickrAgung Pratnyawan on GoogleAgung Pratnyawan on InstagramAgung Pratnyawan on Twitter
Agung Pratnyawan
Content Writer
Freelance Content Writer and Web Developer

Agung Pratnyawan

Freelance Content Writer and Web Developer

You May Also Like