Seputar Sekaten: Gamelan Kanjeng Kyai Gunturmadu

JogjaUpdate.com (27/11/17), Kalau ke Sekaten, yang kamu datangi pasar malam perayaanya atau prosesi upacara adatnya? Pasar malam dan prosesi upacara adat Sekaten memang berjalan berdampingan. Jangan sampai melupakan prosesi upacara adat sekaten yang berlangsung di Pelataran Mesjid Gedhe.

Dimulainya upacara Sekaten ditandai dengan penabuhan gamelan Kanjeng Kyai Gunturmadu dan Kanjeng Kyai Nogowilogo. Sebelumnya dua set gamelan ini diusung oleh abdi dalem Kraton dari Bangsal Ponconiti menuju masjid Agung di Alun-alun Utara dengan dikawal prajurit Kraton.

Prosesi pemindahan dua set gamelan atau yang dikenal dengan nama Miyos gongso ini biasanya dipadati oleh masyarakat. Selain ingin menyaksikan prosesi pemindahan gamelan, masyarakat juga menantikan keluarga Kraton menyebar undhik-undhik berupa uang receh, beras dan bunga.

Kanjeng Kyai Gunturmadu adalah gamelan Sekati berlaras slendro yang diciptakan pada era Sultan Agung. Setelah Perjanjian Gianti, gamelan ini menjadi milik Kasultanan Yogyakarta sedangkan pasangannya yaitu gamelan Kanjeng Kyai Guntursari menjadi milik Kasunanan Surakarta.

Gamelan Kanjeng Kyai Gunturmadu ditempatkan di Pagongan sebelah selatan untuk dibunyikan sebagai tanda dimulainya upacara Sekaten. Agar gamelan sekati ini tetap sepasang, dibuatlah duplikatnya yang bernama Kanjeng Kyai Nagawilaga. Gamelan yang dibuat pada era Sultan Hamengkubuwono I ini dibunyikan di Pagongan sebelah utara.

Gamelan Kanjeng Kyai Gunturmadu dan Kanjeng Kyai Nagawilaga akan dimainkan secara bersamaan sampai dengan tanggal 11 bulan Mulud, selama 7 hari berturut-turut. Padalam malah hari terakhirnya, kedua set gamelan ini akan dibawa pulang kembali ke dalam Kraton.

Agung Pratnyawan on FlickrAgung Pratnyawan on GoogleAgung Pratnyawan on InstagramAgung Pratnyawan on Twitter
Agung Pratnyawan
Content Writer
Freelance Content Writer and Web Developer

Agung Pratnyawan

Freelance Content Writer and Web Developer

You May Also Like