Asal Usul Nama Kampung di Jogja

JogjaUpdate.com (17/10/17), Jogja menyimpan banyak sejarah mengenai kehidupan masa lalu masyarakatnya, yang masih berdampak hingga saat ini. Salah satunya adalah nama-nama kampung di Jogja, yang ternyata menyimpan banyak cerita. Yang sedikit mengambarkan seperti apa kehidupan masyarakat pada jaman dahulu.

Baca Juga: Tahukah Kamu, Ada Lima Plengkung Kraton Jogja

Nama-nama kampung di Jogja ini kebanyakan berdasarkan profesi penduduk kampung tersebut pada jaman dahulu. Sedangkan kampung yang berada di dalam benteng Kraton, atau sering disebut Jeron Beteng dinamakan berdasarkan keahlian abdi dalem. Atau juga mengikuti fungsi-fungsi peran kelompok masyarakan dalam Kraton.

Berikut ini nama-nama kampung Jeron Beteng:

  • Kemit bumen adalah pemukiman para abdi dalem pembersih kraton.
  • Siliran adalah pemukiman para abdi dalem pengurus penerangan kraton.
  • Gamelan adalah pemukiman para abdi dalem pengurus kuda kraton.
  • Pesidenan adalah pemukiman para abdi dalem yang menjadi pesinden atau wiraswara.
  • Patehan adalah pemukiman para abdi dalem yang bertugas menyediakan minuman di kraton.
  • Nagan adalah pemukiman para abdi dalem yang bertugas sebagai penabuh gamelan Jawa.
  • Suranatan adalah pemukiman para abdi dalem yang mengurus masalah keagamaan.
  • Mantrigawen adalah pemukiman para abdi dalem yang bertugas sebagai kepala pegawai.
  • Namburan adalah pemukiman para abdi dalem yang bertugas membunyikan tambur/drumband

Sedangkan kampung yang berada diluar benteng, atau sering disebut Jobo Benteng dulunya dihuni oleh pengurus kraton. Nama-nama pengurus Kraton berdasarkan fungsi dan tugasnya. Diantaranya berikut ini:

  • Kampung Pajeksan adalah kediaman para jaksa,
  • Kampung Gandekan adalah kediaman para pesuruh,
  • Kampung Dagen adalah kediaman para tukang kayu,
  • Kampung Jlagran adalah kediaman para tukang batu,
  • Kampung Gowongan adalah kediaman para ahli bangunan,
  • Kampung Menduran adalah kediaman orang-orang Madura.

Baca Juga: Kosakata Khas Jogja, Dari Walikan Sampai Singkatan

Selain itu, kampung di Jobo Beteng banyak yang berasal dari nama-nama kesatuan prajurit Kraton. Karena dulunya kampung tersebut adalah tempat tinggal atau pemukiman prajurit Kraton. Berikut ini diantaranya:

Jogokaryan

Berasal dari bahasa Sanskerta yaitu kata Jogo berarti menjaga dan karya berarti tugas atau pekerjaan. Bisa diartikan sebagai pasukan yang mengemban tugas untuk menjaga dan mengamankan jalannya pemerintahan dalam kerajaan. Lokasi kampung ini ada di sisi Selatan Keraton.

Panji-panji atau bendera yang dimiliki prajurit Jogokaryan adalah Papasan, empat persegi panjang dengan warna dasar merah ditengahnya ada lingkaran dengan warna hija. Makna dari Papasan ini adalah pasukan pemberani yang dapat menghancurkan musuh dengan semangat teguh.

Bugisan

Dinamakan Kampung Bugisan, karena dahulunya wilayah ini adalah pemukiman atau tempat tinggal prajurit dari kesatuan Bugis. Pada masa sebelum Hamengkubuwono  IX, Prajurit Bugis bertugas di Kepatihan untuk mengawal Pepatih Dalem. Kemudian ditarik menjadi satu dengan prajurit Kraton.

Panji-panji Prajurit Bugis adalah Wulan-dadari, berbentuk empat persegi panjang dengan warna dasar hitam. Di tengahnya ada lingkaran warna kuning emas. Panji ini bermakna Prajurit Bugis diharapkan selalu memberikan penerangan dalam kegelapan. Prajurit Bugis ini sampai sekarang dilibatkan sebagai pengawal upacara Grebeg.

Baca Juga: Mau Ngintip Jogja Lewat CCTV? Gampang, Begini Caranya

Dhaengan

Berasal dari kata Dhaeng, yang dalam bahasa Makasar digunakan sebagai sebutan gelar bangsawan. Prajurit Dhaeng adalah prajurit yang didatangkan Belanda untuk memperkuat tentara RM. Said (Pangeran Mangkunegaran). Kala itu terjadi perselisihan antara RM. Said dengan Pangeran Mangkubumi, yang awalnya bersekutu melawan Belanda.

Puncaknya, RM. Said memulangkan istrinya yang merupakan putri Hamengkubuwono I. Dalam perjalanan, Kanjeng Ratu Bendara dikawal Prajurit Dhaeng. Setibanya di Jogja, prajurit ini disambut dengan baik. Karena keramahan Hamengkubuwono I, Prajurit Dhaeng memilih menetap di Jogja dan mengabdi ke Kraton Yogyakarta.

Panji-panji Prajurit Dhaeng adalah Bahningsari, empat persegi panjang dengan warna dasar putih dan di tengahnya terdapat bintang segi delapan berwarna merah. Bahningsari ini bermaknya prajurit yang pantang menyerah. Secara administratif, kini Kampung Dhaengan berada di dalam wilayah Kelurahan Gedongkiwo, Kecamatan Mantrijeron.

Ketanggunan

Nama Ketanggung ini berasal dari kata dasar tanggung, yang maknanya adalah pasukan dengan tanggung jawab sangat besar. Panji-panji atau bendera Prajurit Ketanggung adalah Cakra-swandana, berbentuk empat persegi panjang dengan warna dasar hitam, di tengahnya terdapat bambar bintang segi enam dengan warna putih.

Cakra-swandana sendiri berasal dari kata Cakra yang berarti senjata berbentuk roda bergerigi dan Swandana yang berarti kendaraan. Dengan kata lain bermakna pasukan yang membawa senjata cakra yang membuat porak poranda musuh. Kampung Ketanggungan berada di wilayah administrasi Kelurahan Wirobrajan, Kecamatan Wirobrajan.

Mantrijeron

Mantrijero berasal dari kata Mantri yang berarti juru bicara, menteri atau jabatan diatas bupati dan kata jero yang berarti dalam. Dengan kata lain Mantrijero bisa diartikan sebagai juru bicara atau menteri di dalam. Atau pasukan yang mempunyai wewenang dalam memutuskan perkara dalam lingkungan Kraton.

Panji-panji Prajurit Mantrijero adalah Purnamasidhi, yaitu berbentuk empat persegi panjang dengan warna dasar hitam dan di tengahnya ada lingkaran dengan warna putih. Purnamasidhi berasal dari kata Purnama atau bulan penuh dan Siddhi yang artinya sempurna. Kini nama Prajurit Mantrijero dijadikan nama Kecamatan Mantrijeron.

Baca Juga: Sejarah Geng Jogja Yang Ternyata Berawal Dari Club Sepeda

Nyutran

Nama Prajurit Nyutra berasal dari kata dasar sutra, yang bermakna pasukan yang halus untuk menjaga dan mendampingi raja. Karena Prajurit Nyutra sendiri merupakan pasukan pengawal pribadi Sultan. Walaupun halus, namun prajurit ini dikenal dengan ketajaman rasa dan ketrampilan yang unggul.

Tidak heran Prajurit Nyutra harus bisa mengusai persenjataan yang lengkap seperti tombak, towok, tameng, panah, dan senapan. Bahkan pada masa sebelum Hamengkubuwono IX, anggota Prajurit Nyutra diwajibkan bisa menari.

Panji-panji Prajurit Nyutra adalah Podhang Ngingsep Sari untuk Prajurit Nyutra Merah dan Padma Sri Kresna untuk Prajurit Nyutra Hitam. Podhang Ngisep Sari berbentuk empat persegi panjang dengan warna dasar kuning, di tengahnya adalah lingkaran merah. Padma Sri Kresna berbentuk empat persegi panjang dengan warna dasar kuning, di tengahnya lingkaran hitam.

Patangpuluhan

Pasukan Patangpuluh memiliki pakaian khas yaitu sikepan lurik patangpuluh, kain panjang putih, rompi merah, celana pendek merah di luar celana panjang. Lengkap dengan sepatu lars hitan dan topi songklok berwarna merah dan hitam. Dilengkapi persenjataan senapan dan tombak, juga membawa instrument tambur, suling dan trompet.

Panji-panji Prajurit Patangpuluh adalah Cakragora, berbentuk empat persegi panjang dengan warna dasar hitam, di tengahnya ada bintang segi enam berwarna merak. Cakragora berasal dari kata Cakra berarti senjata berbentuk roda bergerigi dan gora yang berarti menakutkan. Dengan kata lain adalah pasukan yang bisa mengalahkan musuh.

Prawirotaman

Nama Prawirotaman berasal dari kata Prawira yang berarti perwira atau prajurit dan Tama yang berarti utama. Yang dapat diartikan sebagai pasukan pemberani dan pandai dalam bertindak, tetap bijaksana walau dalam tengah peperangan. Kampung Prawirotaman sendiri berada di Jalan Parangtritis.

Panji-panji Prajurit Prawirotaman berbentuk empat persegi panjang dengan warna dasar hitam, di tengahnya ada lingkaran warna merah. Pakaian khasnya berupa sikepan hitam dengan celana panjang putih, celana pendek di luar warna merah, sepatu lars hitam dan topi bentuk kerang.

Baca Juga: Uniknya Nama Geng Jogja Jaman Dulu

Surokarsan

Nama Surokarsan berasal dari kata Sura yang berarti berani dan Karsa yang berarti kehendak. Pada awalnya, Prajurit Surakarsan adalah pengawal Pengran Adipati Anom dan bukan bagian dari kesatuan prajurit Kraton. Pada masa Hamengkubuwono IX, pasukan ini dijadikan satu dengan prajurit Kraton dalam upcara Garebeg untuk menjaga Gunungan.

Panji-panji Prajurit Surakarsan adalah Pareanom, berbentuk empat persegi panjang dengan warna dasar hijau dan di tengahnya ada lingkaran kuning. Pareanom bermakna pasuka yang selalu bersemangat dan berjiwa muda. Sekarang Kampung Surokarsan berada di dekat kali code dan banyak terdapat bangunan peninggalan Belanda.

Wirobrajan

Nama Wirobrajan berasal dari kata Wira yang berarti berani dan Braja berarti tajam. Dapat diartikan suatu prajurit yang sangat berani dalam melawan musuh dan tajam panca inderanya. Prajurit Wirabraja ini sangat khas dengan seragam merah-merahnya, sehingga sering disebut Prajurit Lombok Abang.

Panji-panji Prajurit Wirabraja adalah Gula Klapa, berbetuk empat persegi panjang dengan warna dasar putih dan setiap sudut dihiasi dengan centhung merah seperti kuku Bima. Di tengahnya ada segi empat berwarna merah dengan segi delapan berwarna putih ditengah-tengahnya.

Baca Juga: QZRUH Dan JOXZIN, Dua Nama Legendaris Di Jogja

Agung Pratnyawan on FlickrAgung Pratnyawan on GoogleAgung Pratnyawan on InstagramAgung Pratnyawan on Twitter
Agung Pratnyawan
Content Writer
Freelance Content Writer and Web Developer

Agung Pratnyawan

Freelance Content Writer and Web Developer

You May Also Like