Pernah Dikira Shanghai, Inilah Kampung Pecinan Ketandan

JogjaUpdate.com (18/06/2019), Karena kesalahan Geo Tagging, sebuah foto di kampung pecinan Ketandan sempat disangka berlokasi di Shanghai, China. Tahukah kamu sebenarnya tempat apa ini?

Berbicara mengenai etnis Tionghoa di Jogja memang tida bisa lepas dari Kampung Ketandan. Ketandan merupakan nama kampung yang terletak di kecamatan Gondomana, Malioboro tepatnya di utara Pasar Beringharjo.

Hingga sekarang, Ketandan menjadi salah satu sentra perdagangan yang ada di Yogyakarta. Di samping sebagai sentra perdagangan, Ketandan menyimpan keunikan sejarah etnis Tionghoa yang ada di Yogyakarta.

Baca Juga : 5 Kuliner Di Malioboro Yang Harus Kamu Coba

Mengutip dari Visitingjogja.com, sejarah berdirinya Kampung Ketandan tidak lepas dari keberadaan Etnis Tionghoa sebagai salah satu penggerak perekonomian di Jogja.

Etnis Tionghoa di Kota Yogyakarta sendiri mulai diakui sejak masa pemerintahan Sultan Hamengkubowono VII, yaitu sekitar abad 19 Masehi dengan didirikannya kawasan masyarakat Tionghoa di Ketandan yang merupakan pusat permukiman pecinan pada zaman Belanda.

Ketandan sendiri berasal dari kata Tondo yang merupakan ungkapan bagi pejabat penarik pajak atau Pejabat Tondo yang oleh Sultan diberi wewenang langsung kepada Etnis Cina.

Berawal dari hal tersebut, diketahui bahwa Etnis Cina memegang peranan penting dalam perkembangan sejarah dan kebudayaan Yogyakarta.

Dari segi arsitektur, sebagian bangunan di kampung pecinan Ketandan saat ini telah banyak mengalami perubahan. Meski begitu sejumlah bangunan kuno dengan corak arsitektur perpaduan China, Eropa, dan Jawa juga masih dapat ditemukan.

Salah satu ciri rumah kuno warga Tionghoa adalah bentuk atap rumah yang melengkung. Berbeda dengan gaya atap rumah tradisional Jawa atau rumah modern yang runcing simetris.

Baca Juga : Liburan Ke Jogja? Ini 7 Kuliner Yang Harus Dicoba Selain Gudeg

Biasanya bangunan berbentuk memanjang ke belakang dengan bagian depan digunakan sebagai toko, sementara bagian belakang untuk tempat tinggal.

Sampai sekarang, kawasan Ketandan masih banyak dihuni oleh kalangan Tionghoa. Umumnya mereka bermatapencaharian sebagai pedagang. Mayoritas usaha yang digeluti adalah menjual perhiasan khususnya emas dan permata.

Tetapi, jauh sebelum itu banyak warga Tionghoa yang membuka usaha toko kelontong, toko kebutuhan pook, dan toko jamu obat tradisional. Sampai menjelang tahun 1950-an, hampir 90 persen warganya beralih usaha ke toko emas.

Itulah sekilas mengenai kampung pecinan Ketandan yang sempat ramai dikira Shanghai. Pernah ke tempat ini?

Agung Pratnyawan on FlickrAgung Pratnyawan on GoogleAgung Pratnyawan on InstagramAgung Pratnyawan on Twitter
Agung Pratnyawan
Content Writer
Freelance Content Writer and Web Developer

Agung Pratnyawan

Freelance Content Writer and Web Developer

You May Also Like