Museum Pergerakan Wanita, Jejak Perjuangan Kaum Perempuan Indonesia

JogjaUpdate.com (15/02/2019), Pejuangan Indonesia tak lepas dari peran serta wanita. Jejak-jejak perjuangan ini tersimpan apik di Museum Pergerakan Wanita.

Mungkin belum banyak yang tahu dengan keberadaan museum satu ini. Padahal lokasi berada di kawasa ramai dan padat di Kota Yogyakarta.

Baca Juga : Museum RS Mata Dr. Yap, Tersimpan Sejarah Panjang Masa Lalu

Orang lebih mengenailnya sebagai tempat digelaarnya pernikahan dan event pameran. Padahal, di tempat ini menyimpan jejak perjuangan kaum perempuan Indonesia.

Dikutip dari visitjogja.com, sebagai bentuk penghargaan terhadap kiprah perjuangan kaum perempuan Indonesia Gedung Museum Pergerakan Wanita Indonesia Mandala Bhakti Wanitatama.

Pembangunan gedung ini dalam rangka memperingati Kongres Perempuan I pada tahun 1928 di Yogyakarta. Pembangunannya diprakarsai oleh Ibu Sri Mangunsarkoro di Kongres Wanita Indonesia tahun 1952 di Bandung.

Dalam kongres tersebut, Ibu Sri Mangunsarkoro mengusulkan monumen tersebut dibangun tidak berwujud tugu melainkan berbentuk gedung dengan tujuan dapat digunakan sebagai aktfitas sehari-hari serta mampu meningkatkan peran perempuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Usulan tersebut diterima para peserta kongres sehinggal menjadi keputusan kongres, dan keputusan tersebut di terima penasehat Yayasan Hari Ibu, yaitu Ngarsa Dalem IX.

Baca Juga : Goa Jepang Pundong, Awalnya Ditakuti Tapi Kini Diminati

Diketuai Ibu Sri Mangunsarkoro, panitia peringatan Seperempat Abad Pergerakan Wanita Indonesia beserta anggota lainnya mempersiapkan segala sesuatu sehingga peletakan batu pertama dilakukan oleh Ibu Sukonto selaku Ketua Kongres I pada tanggal 22 Desember 1953.

Peletakan batu pertama pembangunan gedung induk bertepatan dengan peringatan 40 tahun Kesatuan Pergerakan Wanita Indonesia.

Pembangunan gedung ini dilakukan secara bertahap disesuaikan dengan dana yang masuk. Peresmian Gedung Monumen Wanita Indonesia dilakukan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 22 Desember 1983.

Bangunan tersebut terdiri atas:

  1. Bangunan Balai Shinta merupakan bangunan pendopo joglo.
  2. Balai Srikandi dikhususkan untuk Museum Pergerakan Wanita Indonesia.
  3. Balai Kunthi difungsikan untuk ruang pertemuan.
  4. Balai Utari difungsikan sebagai ruang pertemuan.
  5. Wisma Arimbi, lantai atas difungsikan sebagai penginapan dan lantai bawah untuk perkuliahan atau rapat.
  6. Wisma Sembodro merupakan bangunan yang dipergunakan sebagai penginapan

Di Pendopo Joglo bangunan Balai Shinta terpampang dua buah relief yang menggambarkan:

  1. Pergerakan Wanita Indonesia dalam Masa Kolonial.
  2. Pergerakan Wanita Indonesia dalam Masa Perang Kemerdekaan.
  3. Pergerakan Wanita Indonesia dalam Masa Demokrasi Liberal.
  4. Pergerakan Wanita Indonesia dalam masa Demokrasi Terpimpin.
  5. Pergerakan Wanita Indonesia dalam Masa Orde Baru.

Balai Srikandi merupakan yang difungsikan sebagai museum. Di sinilah Museum Pergerakan Wanita itu berada.

Koleksi yang dipamerkan berupa diorama perjuangan wanita, potret-potret peristiwa, pakaian pejuang wanita , mesin jahit, mesin ketik, antara lain: sebagainya yang pernah dipergunakan oleh pejuang wanita pada saat itu.

Museum Pergerakan Wanita Indonesia I Lokasi: Jalan Laksda Adisucipto 86-88 I Jam Operasional: Senin s.d. Kamis : pukul 08.00 ? 13.00 WIB I Jumat s.d. Sabtu : pukul 08.00 ? 12.00 WIB I Minggu dan Hari Besar : tutup

Baca Juga : Inilah 4 Kota Tujuan Wisata Untuk Traveler Pemula

Itulah singkat dari Museum Pergerakan Wanita yang menyimpan jejak penjuangan kamu perempuan Indonesia.

Agung Pratnyawan on FlickrAgung Pratnyawan on GoogleAgung Pratnyawan on InstagramAgung Pratnyawan on Twitter
Agung Pratnyawan
Content Writer
Freelance Content Writer and Web Developer

Agung Pratnyawan

Freelance Content Writer and Web Developer

You May Also Like