Mau Belajar Macapat Gratis? Bisa Ke Sekolah Ini

JogjaUpdate.com (18/02/18), Ingin bisa macapat? Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat menggratiskan belajar macapat. Tepatnya di KHP Kridha Mardawa milik Kraton yang ini berada di Jalan Rotowijayan nomor 3. Di bangunan kecil ini juga menjadi tempat berkumpulnya para pencinta macapat.

Menurut yang dimuat Jogja.Tribunnews.com (17/02/18), Kraton menugaskan Kanjeng Mas Tumenggung Projosuwarsono untuk mengajar seni macapat. “Jadi KHP Kridha Mardawa itu membawahi sekolah macapat ini. Selain itu juga sekolah dalang dan karawitan,” kata KMT Projo.

Dikatakan KMT Projo, sekolah macapat ini sudah berdiri sejak tahun 1960. Meskipun demikian, proses belajar macapat sudah berlangsung sebelumnya. “Dulu sudah ada, tidak tahu tahun berapa. Dulu belajar macapat ya di rumah pengajarnya,” kata KMT Projo.

Untuk ikut belajar macapat di tempat ini tidak ditarik biaya sepeserpun dan tidak ada syarat khusus untuk mengikutinya. Bahkan bagi yang tidak tahu sama sekalipun mengenai macapat boleh ikut belajar di tempat ini. “Siapapun boleh ikut belajar. Tidak dipungut biaya, karena sudah ditanggung oleh Keraton,” kata KMT Projo.

KMT Projo yang sudah mengajar sejak 1990 itu menjelaskan ada tiga tahapan yang harus dilewati untuk belajar macapat. Tahap pertama untuk pemula, belajar sekar alit. Selanjutnya tahap kedua, yaitu belajar sekar tengahan. Sementara tahap ketiga belajar sekar ageng.

Seperti sekolah pada umumnya, untuk naik kelas pun ada ujian yang harus dilewati. “Ya nanti ada ujiannya untuk naik kelas. Kalau sudah dianggap bisa, dan melewati ujian, bisa melanjutkan tahap selanjutnya,” lanjut KMT Projo.

Terdapat jadwal belajar di sekolah macapat ini, Senin dan Kamis digunakan untuk belajar sekar alit, Rabu dan Jumat untuk belajar sekar tengahan, dan Rabu dan Sabtu untuk belajar sekar ageng. Jam belajarnya dimulai pukul 15.30 sampai 17.30 WIB.

Macapat

Macapat adalah tembang atau puisi tradisional Jawa. Setiap bait macapat mempunyai baris kalimat yang disebut gatra, dan setiap gatra mempunyai sejumlah suku kata (guru wilangan) tertentu, dan berakhir pada bunyi sajak akhir yang disebut guru lagu.

Agung Pratnyawan on FlickrAgung Pratnyawan on GoogleAgung Pratnyawan on InstagramAgung Pratnyawan on Twitter
Agung Pratnyawan
Content Writer
Freelance Content Writer and Web Developer

Agung Pratnyawan

Freelance Content Writer and Web Developer

You May Also Like