Menurut Studi, Instagram Social Media Terburuk Untuk Kesehatan Mental

JogjaUpdate.com (2/6/17), Instagram kini menjadi salah satu social media yang banyak digemari, selain Facebook dan Twitter. Yang awalnya sebagai wadah berbagi foto, kini telah berkembang pesat dengan berbagai fiturnya. Namun menurut studi terbaru, Instagram ini dinobatkan sebagai social media terburuk untuk kesehatan mental.

Dalam sebuah laporan terbaru dari Royal Society for Public Health bersama Young Health Movement di Inggris, menunjukan bahwa Instagram dapat berdampak buruk bagi kesehatan mental. Hal ini berdasarkan hasil penelitian yang melibatkan 1.479 orang yang berusia 14 hingga 24 tahun tentang bagaimana Facebook, Instagram, Youtube, Twitter dan Snapchat.

Penelitian ini menilai dampak social media, apakah membuat mereka merasa baik secara positif maupun negatif. Para peserta penelitian ini diberikan pertanyaan mengenai setiap platform social media tersebut. Termasuk apakah mereka mengalami perasaan cemas, depresi dan kesipian ketika memakai aplikasi tersebut.

Dan hasilnya, disebutkan kalau instagram menduduki peringkat pertama dengan hasil terburuk. Barulah dibawah Instagram diikuti oleh Snapchat, Facebook dan Twitter. Sedangkan Youtube mendapatkan hasil paling baik diantara social media lainnya. Menurut penelitian tersebut, hanya Youtube yang membuat peserta merasa sedikit lebih baik.

Mengapa para peneliti ini menobatkan Instagram sebagai social media terburuk bagi kesehatan mental? Menurut peneliti, konten yang dipostingkan di Instagram ini banyak mengumbar gaya hidup mewah. Hal ini dinilai menjadi pemicu utama yang dapat mendorong pola pikir penggunanya.

Konten seperti ini memunculkan persepsi yang berbeda dari penggunanya. “Konten-konten tersebut muncul dengan persepsi yang berbeda dari kondisi ekonomi pengguna. Misal, ia melihat posting teman-temannya lagi berpesta atau berbelanja, sedangkan ia tidak bisa melakukan hal tersebut,” kata Dr Matt Stanley, salah satu peneliti studi ini.

Dan akhirnya postingan seperti ini memicu psikologis yang negatif dari khawatir hingga depresi. “Kondisi ini, bisa memicu kondisi psikologis yang negatif, seperti rasa khawatir, kecemburuan sosial, dan yang terparah adalah depresi. Karena yang pasti, ia tidak bisa melakukan seperti yang teman-temannya lakukan,” tambahnya.

Sementara itu, Shirley Cramer, CEO Young Health Movement mengungkapkan kalau konten-konten di instagram ini tidak terkontrol akan semakin banyak korban. “Ini bisa menciptakan kesenjangan sosial di dalam dunia digital. Bahayanya, yang paling banyak mengalami fenomena ini adalah generasi milenial,” jelasnya.

Agung Pratnyawan on FlickrAgung Pratnyawan on GoogleAgung Pratnyawan on InstagramAgung Pratnyawan on Twitter
Agung Pratnyawan
Content Writer
Freelance Content Writer and Web Developer

Agung Pratnyawan

Freelance Content Writer and Web Developer

You May Also Like