Kuliner Era Mataram Tertuang Dalam Menu Serat Centhini Dari Tembi Rumah Olah-olahan

JogjaUpdate.com (23/8/17), Bagi para pegiat budaya, Serat Centhini bukanlah sekedar naskah sejarah belaka. Naskah yang ditulis sejak tahun 1814 ini memuat beragam aspek kehidupan, termasuk menu masakan. Dari naskah inilah yang mengilhami Tembi Rumah Olah-olahan membuat menu Serat Centhini.

Menu yang disajikan Tembi Rumah Olah-olahan ini diambil dari ragam suguhan untuk Syekh Amongraga dan Cebolang, waktu berada di Bogor, Dukuh Argapura (Lumajang), Padepokan Gunung Tidar Magelang, Kerta (Pleret, ibukota Mataram), Pujakara (Mataram), dan di Tembayat (Klaten).

Buat yang ingin merasakan sajian-sajian kuliner di masa-masa Mataram, Tembi Rumah Olah-olahan menghadirkan menu-menu berdasarkan apa yang ada di Serat Centhini. Tembi Rumah Olah-olahan membagi menu-menu ini menjadi beberapa paket Menu Serat Centhini, antara lain Paket Ndelok Wayang dan Paket Tarub.

Paket Ndelok Wayang

Paket ini mengacu pada aneka macam kuliner yang dapat ditemukan pada pertunjukan wayang masa lalu. Seperti kisah dalam Surat Centhini yang dialami Syekh Amongraga, Cebolang dan tokoh-tokoh lainnya. Biasanya dibuat oleh yang punya hajat atau ada pula yang menjajakan di area penonton wayang.

Terdiri dari Nasi, Soto Ayam, Wader Goreng, Pindang Telor, Gudeg, Pecel Sayur, Gudangan, Teh, dan Es Beras Kencur. Juga dilengkapi gabungan sajian seperti Sate Ayam, Jajan Pasar, Aneka Gorengan dan Rebusan, Aneka Buah-buahan, Wedang Ronde, Es Dawet, dan Es Cincau.

Paket Tarub

Dahulu, Tarub ini menjadi bagian penting dalam memeriahkan sebuah hajatan di Pulau Jawa. Selain melibatkan cukup banyak orang, pemasangan Tarub ini juga tidak boleh sembarangan dan memerlukan aneka sajen. Dan menu ini berdasarkan apa yang disajikan kepada para tokoh di Serat Centhini selama pasang Tarub.

Terdiri dari Nasi, Jangan Menir, Pecel, Rujak, Ayam Goreng, Buah Pisang, Es Dawet. Juga dilengkapi dengan gabungan terdiri dari Nasi Gurih Komplit, Sega Golong, Jenang Abang dan Jenang putih, juga Jajan pasar.

Selain kedua paket diatas, juga ada Menu Mligi atau khusus dalam bentuk Gubugan Centhini.

Gubugan Mataram

Menu yang ada berdasarkan suguhan kuliner yang ditemukan tokoh Cebolang waktu sampai di Kerta, ibukota Mataram. Terdiri dari Sega Lemeng, Pepes Tombro, Dendeng Sapi, Telur Asin, Sambal Bawang, dan Acar Ketimun.

Gubugan Wirasaba

Wirasaba adalah nama tempat ada dalam cerita kisah kehidupan Ki Jamali yang mempunyai dua istri. Menu Gubugan Wirasaba ini berdasarkan kuliner yang disajikan istri muda Ki Jamali yang tercatat dalam Serat Centhini. Terdiri dari Sega Megana yang berisikan Nasi Pulen, Telur Rebus Separo, Oseng Nangka Muda, Sambal Kering Tempe, sambal, dan Dendeng Gepuk.

Gubugan Paesan

Kalo menu ini, berdasarkan kuliner yang ditemukan tokoh-tokoh dalam Serat Centhini ketika berada di berbagai acara atau hajatan. Salah satunya adalah hajatan pernikahan, yang menyajikan jamuan dan sajen ketika rias penganten atau Paesan. Menu ini terdiri dari Sega, Ayam Panggang, Srundeng, Wader Goreng, dan Gule Pondhoh.

Gubugan Bogor

Berdasarkan kisah perjalanan Raden Jayengresmi bersama para abdinya, Gatak dan Gatuk ketika sampai di Bogor. Saat sampai di tempat tersebut, mereka mendapatkan banyak sajian dari ikan tombro atau ikan mas. Menu ini terdiri dari Sega Liwet, Tombro Bacem, Pepes Tombro, Opor Tombro, Lalapan, dan Sambel Uleg.

Gubugan Patanen

Didasarkan dari sajen yang harus disajikan di senthong tengah (pasren/patanen) saat tuan rumah akan mengadakan hajatan. Menu ini terdiri dari Sega, Jangan Menir, Ayam Srundeng, dan Pecel.

Gubugan Sajen Memule

Menu ini berdasarkan sajen yang ditemukan oleh Cebongan dalam perhentiannya di Mataram. Sajen Memule merupakan sajen yang ditujukan untuk memperingati, menghormati, dan memuliakan arwah leluhur. Terdiri dari Sega Golong, Pecel, Jangan Menir, Jangan Padhamara, Ayam Goreng, Iwak Goreng, Kolak Ketan, dan Apek Kocor.

Gubugan Tembayat

Berdasarkan kisah Cebolang bersama keempat santrinya ketika sampai di wilayah Tembayat, Klaten. Terdiri dari Sega Gurih, Pecel Kembang Turi, Jangan Menir, Jangan Bobor, Sayur Padhamara, Lodheh Mbayung, Gudeg, Ayam Ingkung, Pelas Urang, Garang Asem, Tongseng Kambing, Iwak Goreng, Bothok Bethik, Sambal Bawang, dan Lalapan.

Gubugan Wonogiri

Masih dari kisah perjalanan Cebolang bersama keempat santrinya, namun ini ketika mereka sampai di wilayah Wonogiri. Terdiri dari Sega, Opor Menthok, Ayam Goreng, Gudeg, Bubuk Kedelai, Sambel Pete Ati Rempela, Sambel Uleg, Gorengan Emprit, Telur Asin, dan Pisang Emas.

Gubugan Tidar

Berdasarkan kisah pengembaraan Syekh Amongraga yang sampai di Gunung Tidar mengunjungi rumah Ki Wasibagena. Disana beliau disuguhkan makanan yang akhirnya disajikan dalam menu Gubugan Tidar. Terdiri dari Sega Liwet, Oseng Buncis, Iwak Goreng, dan Sambel Petis.

Gubugan Argapura

Perjalanan Raden Jayangsari bersama Niken Rancangkapti dan abdinya bernama Buras mencari Raden Jayengresmi, membawa mereka sampai di tempat bernama Argapura di Lumajang. Ketika itu mereka membayangkan bermacam makanan enak-enak, dan secara kebetulan makanan yang disajikan seperti yang dibayangkan. Terdiri dari Sega Liwet, Pecel Sayur, Jangan Menir, dan Dendeng Iwak Kebo.

Agung Pratnyawan on FlickrAgung Pratnyawan on GoogleAgung Pratnyawan on InstagramAgung Pratnyawan on Twitter
Agung Pratnyawan
Content Writer
Freelance Content Writer and Web Developer

Agung Pratnyawan

Freelance Content Writer and Web Developer

You May Also Like