Kisah Watu Manten, Batu di Proyek Jalur Lintas Selatan yang Sempat Tak Bisa Hancur

JogjaUpdate.com (18/09/2019), Penggarapan proyek Jalur Lintas Selatan yang melewati Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sempat terhalang dengan keberadaan Watu Manten.

Kendala ini dialami ketika proses land clearing di Desa Semugih, Kecamatan Rongkop. Proyek ini sempat terhenti hingga sepekan karena ada batu yang ada ditempat itu.

Batu yang berada di Dusun Semampir ini bukan sembarang baru saja. Namun warga sekitar mensakralkannya dan memberi nama sebagai Watu Manten (Batu Temanten).

Warga sekitar mempercayai kalau batu sebesar backhoe kecil ini menyimpan kisah mistis di baliknya. Sehingga mereka menganggapnya sakral.

Menurut cerita warga setempat, batu ini dulunya menjadi tempat sepasang pengantin beristirahat dalam sebuah perjalanan.

Ketika pasangan yang baru menikah seminggu ini beristirahat di tempat ini, tiba-tiba ada batu besar yang menimpa hingga keduanya meninggal dunia.

Selain itu, ada dua pohon jati yang tumbuh di atas batu ini. Dua pohon jati ini dianggap sebagai simbol dari pasangan pengantin tersebut.

Keberadaan batu ini tepat di jalur penggarapan Jalur Lintas Selatan. Yang mau tidak mau, proyek ini harus cari cara untuk mengatasinya.

Watu Manten
Watu Manten

Diwartakan Suara.com (14/09/2019), warga sekitar telah melakukan ritual khusus yang melibatkan pihak Kraton Ngayogyakarto Hadiningrat.

Ritual khusus untuk Watu Manten ini telah dilaksanakan pada Kamis Kliwon (12/09/2019) kemarin seperti yang disepakati oleh warga.

Berbagai macam rupa perlengkapan ritual disiapkan, dari ingkung, nasi tumpeng, telur rebus, kelobot, ikan lele dan kemenyan.

Tidak ketinggalan disiapkan sepasang ayam jantan dan betina dalam wadah kiso. Juga dengan pakaian pengantin laki-laki dan perempuan lengkap dengan sanggulnya.

Prosesi ritual ini dimulai dengan melantunkan ayat-ayat suci Alquran. Kemudian prosesi serah terima pakaian pengantin kepada pihak desa.

Pakaian pengantin yang tersimpan dalam wadah berbeda berbahan kayu ini akan disimpan oleh pemerintah desa sebagai tetenger dan pengiling-eling Watu Manten.

Dalam prosesi ini juga, dilakukan pelepasan ayam dari kiso. Kedua yang yang dibeli secara terpisah ini langsung akrab satu sama lain.

Tetua kampung pun berpesan kepada warga sekitar agar tidak mengankap sepasang ayam ini. Biarkan mereka hidup bebas di alam.

Seusai ritual ini, proses pemecahan dan pemindahan batu ini pun dilaksanakan. Proses pemecahan dan pemindahan Watu Manten ini pun berjalan dengan lancar tanpa kendala.

Menurut perwakilan Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat GRM (Gusti Raden Mas) Hertriasning, Watu Manten ini adalah sebuah tetenger yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu.

Pihak Kraton dan warga pun menginginkan kalau batu ini hanya dipindahkan saja, alias digeser bukan sepenuhnya dihancurkan untuk jalan.

Itulah kisah penggeseran Watu Manten dari proyek Jalur Lintas Selatan setelah sempat terkendala beberapa hari. Dan proyek ini pun bisa dilanjutkan.

Agung Pratnyawan on FlickrAgung Pratnyawan on GoogleAgung Pratnyawan on InstagramAgung Pratnyawan on Twitter
Agung Pratnyawan
Content Writer
Freelance Content Writer and Web Developer

Agung Pratnyawan

Freelance Content Writer and Web Developer

You May Also Like