JogjaUpdate.com ~ Kesehatan mental saat ini menjadi persoalan serius yang perlu mendapat perhatian bersama, seseorang tidak cukup hanya sehat secara fisik, tetapi juga harus memiliki kondisi mental yang baik agar mampu menjalani kehidupan secara produktif. Walikota Yogyakarta bersama PKBI DIY menggagas membuat shelter bagi penyintas kesehatan mental.
Dalam Sarasehan PKBI DIY bertema “Membangun Ekosistem Kesehatan Mental yang Inklusif dan Anti-Stigma” di Kantor Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) DIY, Jumat (24/7), Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menegaskan pentingnya membangun ekosistem kesehatan mental yang inklusif dan bebas stigma sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM).
Baca juga:
Rampak Pembebasan, Hasil Kolaborasi Kunto Aji dengan YKHC
Jagad’e Raminten, Potret Perjalanan Hamzah Sulaiman
Jelang Hari Anak Nasional, LPKA Yogyakarta dan PKBI DIY Gelar Trofeo Futsal
Peneliti Jogja dan Australia Kampanyekan Efek Perubahan Iklim dan Kesehatan Reproduksi Melalui Wayang

Hasto juga mengatakan, kesehatan mental saat ini menjadi persoalan serius yang perlu mendapat perhatian bersama. Menurutnya, seseorang tidak cukup hanya sehat secara fisik, tetapi juga harus memiliki kondisi mental yang baik agar mampu menjalani kehidupan secara produktif.
“Tema mental health ini sangat bagus, sehingga PKBI bersama Pemerintah Kota Yogyakarta nantinya bisa bersama-sama menggarap isu kesehatan mental. Kita ingin SDM itu sehat bukan hanya secara fisik, tetapi juga sehat secara mental,” ujar Hasto.
Ia juga mengungkapkan gagasannya untuk menghadirkan shelter atau rumah singgah dengan konsep intermediate care, yakni tempat transisi bagi penyintas gangguan kesehatan mental yang kondisinya sudah membaik dan tidak lagi memerlukan perawatan di rumah sakit jiwa, namun belum siap kembali ke lingkungan keluarga.
“Saya bercita-cita bagaimana bisa membangun shelter yang sifatnya perawatan intermediate. Jadi ketika seseorang sudah tidak perlu dirawat di rumah sakit jiwa karena sudah mulai mandiri, tetapi keluarganya belum siap menerima, mereka tetap memiliki tempat yang aman. Ke depan hal ini akan kami pikirkan bersama PKBI,” katanya.

Sementara itu, Ketua PKBI DIY Budhi Hermanto menjelaskan bahwa PKBI selama ini berfokus pada layanan kesehatan seksual dan reproduksi yang komprehensif, mulai dari edukasi, pencegahan, hingga pendampingan bagi masyarakat yang menghadapi persoalan kesehatan reproduksi maupun kesehatan mental.
Ia menjelaskan, layanan PKBI tidak hanya memberikan edukasi mengenai kesehatan reproduksi kepada anak-anak, remaja, hingga orang dewasa, tetapi juga melakukan advokasi bagi korban kekerasan seksual, pendampingan hukum, hingga menyediakan shelter bagi perempuan yang mengalami kehamilan tidak diinginkan.
“Core layanan kami adalah kesehatan seksual dan reproduksi yang komprehensif. Kami melakukan advokasi, mendampingi korban kekerasan seksual sampai proses hukum, dan menyediakan shelter bagi yang membutuhkan. Misalnya perempuan yang mengalami kehamilan tidak diinginkan agar mereka berada di tempat yang aman sampai proses persalinan selesai,” ujar Budhi Hermanto.
Menurut Budhi Hermanto, pendampingan terhadap kasus kesehatan seksual dan reproduksi sering kali tidak mudah karena melibatkan persoalan psikologis, sosial, hingga penerimaan keluarga.
“Kasus-kasus seperti ini sangat kompleks. Misalnya korban kekerasan seksual yang kemudian hamil, sementara ia sendiri menolak kehadiran anak tersebut dan keluarganya juga belum bisa menerima. Kami harus memikirkan keberlanjutan hidup ibu maupun anaknya. Karena itu pendampingan harus dilakukan secara menyeluruh,” jelasnya.

Selain itu, PKBI juga menjalankan berbagai program lain, seperti pendidikan kesehatan reproduksi di SMP dan SMA, pendampingan remaja di desa, program untuk lansia, pencegahan HIV/AIDS dan tuberkulosis, hingga pendampingan bagi anak atau remaja yang berhadapan dengan hukum agar dapat kembali ke masyarakat dengan kondisi kesehatan mental yang lebih baik.
Budhi menambahkan, pada tahun ini PKBI DIY mulai mengembangkan sistem layanan pemulihan kesehatan mental sebagai salah satu fokus organisasi, tanpa menghentikan program-program yang telah berjalan.
“Tahun ini kami sedang merancang sistem layanan untuk membantu pemulihan kesehatan mental. Karena kesehatan mental itu tidak terlihat. Orang bisa tampak baik-baik saja, padahal sebenarnya sedang mengalami tekanan yang sangat tinggi,” ungkapnya.
Baca juga:
Istimewa, Lulusan SMK Kesehatan Nuzula Husada Sudah Diterima Bekerja Sebelum Wisuda
PKBI Sleman Beri Bantuan, Turi Kini Miliki Bengkel Terpadu Bagi Penyandang Disabilitas
PKBI DIY Diskusikan Antisipasi Krisis Iklim di Yogyakarta
Kesehatan Reproduksi Bagian Dari Saya dan Akan Kami Perjuangkan Selamanya

Budhi Hermanto juga mengajak masyarakat yang membutuhkan bantuan untuk tidak ragu mengakses layanan PKBI. Masyarakat dapat menghubungi nomor layanan konselor melalui Hotiline Kantor 08993060008, Konseling 081384595593 atau melalui media sosial instagram @PKBIDIY.
Saat ini PKBI DIY didukung oleh relawan yang tersebar di seluruh kabupaten/kota di DIY, yakni Kota Yogyakarta, Sleman, Bantul, Kulon Progo, dan Gunungkidul. PKBI DIY juga memiliki klinik layanan kesehatan di kawasan Bintaran, Kota Yogyakarta, yang ke depan akan dikembangkan dengan layanan khusus kesehatan mental di lantai dua gedung tersebut. (240726/26)



