Kenapa Rata-rata Orang Indonesia Bertubuh Pendek?

JogjaUpdate.com (25/9/17), Berapa tinggi badan kamu? Lalu bandingkan dengan rata-rata tinggi bule. Mengapa rata-rata orang Indonesia bertubuh pendek dibandingkan bule? Apakah kita yang masih termasuk ras Mongoloid ini berbeda tingginya dengan orang-orang ras Kaukasoid? Apakah ras mempengaruhi fisik seseorang?

Menurut yang dimuat Kompas.com (20/9/17), Peneliti Pusat Pengembangan Ilmu Pengetahuan Teknologi Pangan dan Pertanian Asian Tenggara Institut Pertanian Bogor, Prof. Dr. Ir. Dodik Briawan, MCN mengatakan, ras tidak berpengaruh pada pertumbuhan fisik. Asupan makanan dan minumanlah yang memberdakan pertumbuhan anak.

Pada usia 0-6 bulan, pertumbuhan anak Indonesia sama dengan anak ras Kaukasoid yang umumnya tersebar di Eropa, Amerika Utara, Australia, dan Selandia Baru. “Pada saat 0-6 bulan, saat anak Indonesia dengan ASI saja, maka pertumbuhannya sama dengan pertumbuhan anak bule, ras kaukasoid. ASI itu cukup dan genetiknya bagus,” kata Dodik.

Kemudian setelah lewat usia 6 bulan, pertumbuhan anak Indonesia menurun karena kualitas Makanan Pendamping ASI (MPASI). Dodik mengungkapkan, tidak semua orang tua memahami MPASI dengan baik. Bahkan terkadang MPASI diperlakukan sebagai makanan pengganti ASI.

Selain itu, juga makanan yang diberikan berupa makanan olahan kemasan yang tidak mencukupi kebutuhan gizi balita. Padahal kebutuhan energi perkilogram berat anak usia 0-3 tahun tiga kali lebih besar dari orang berusia 21-50 tahun. Hal ini juga berlaku pada kebutuhan anak akan protein.

“Ibu-ibu salah konsepsi. Misalnya MPASI pakai roti yang dijadikan bubur atau bubur makanan kemasan. Makanan dari rumah harus tetap ada. Jadi, gizi harus lengkap. Gizi itu diperlukan (dan) tidak bisa dirapel,” kata Dodik.

Dodik menambahkan, pengenalan buah dan sayur sejak dini juga penting dilakukan. Kedua makanan ini punya gizi yang cukup lengkap bagi tubuh. Sayangnya, makanan dengan kandungan gula tinggi malah lebih digemari anak. Kalau telah diperkenalkan, anak akan enggan makan buah dan sayur.

“Ada contoh petani di Afrika. Petani tebu di sana kasih makan anaknya gula tebu. Gemuk tapi sebetulnya kurang gizi. Kalau gula kan hanya gula kandungannya. Kalau buah kan lengkap,” kata Dodik.

Agung Pratnyawan on FlickrAgung Pratnyawan on GoogleAgung Pratnyawan on InstagramAgung Pratnyawan on Twitter
Agung Pratnyawan
Content Writer
Freelance Content Writer and Web Developer

Agung Pratnyawan

Freelance Content Writer and Web Developer

You May Also Like