Menyelamatkan Alam dan Lingkungan, Kincir Air Tradisional Sumatera Barat Diambang Kepunahan.

JogjaUpdate.com ~ Di Sumatera Barat, terdapat sejumlah kincir air tradisional yang dipergunakan secara turun temurun yang digunakan untuk pengairan sawah, penumbuk beras/tepung. Belakangan ini, kincir air tradisional mulai digunakan sebagai mikrohidro/pembangkit listrik tenaga air berskala kecil.

Kincir air tradisional untuk penumbuk beras/tepung di Sumatera Barat sudah semakin langka dan menghadapi ancaman kepunahan karena hadirnya teknologi modern, juga deforestrasi yang mengancam sumber-sumber air. Ancaman kepunahan lainnya disebabkan karena bahan utama kincir air tradisional berupa kayu dan bambu yang mulai sulit diperoleh.

Yayasan Umar Kayam bekerjasama dengan The British Museum sedang melakukan pendokumentasian kincir air tradisional di Sumatera Barat dalam program bernama Endagered Material Knowledge Program.

Baca juga:
4 Pilihan Kulkas Minuman Dingin Terbaik 2026, Cocok untuk Rumah hingga Usaha Kecil
Kerajinan Bukan Sekadar Komoditas Dagang, Melainkan Representasi Identitas Budaya Yogyakarta
Gelar Potensi Industri Kerajinan Jogja 2026, Memperkuat Daya Saing Industri di DI Yogyakarta
Edukasi Fotografi Unik, Mahasiswa Ilkom Amikom Selenggarakan Ketoprak di SMAN 2 Banguntapan

Menurut Marjito Iskandar Tri Gunawan selaku peneliti Yayasan Umar Kayam, menyebutkan bahwa program pendokumentasian ini ingin merespons kembali keberadaan kincir air tradisional sebagai bagian dari praktik budaya di Minangkabau yang telah digunakan secara turun temurun.

Marjito Iskandar mengungkapkan, “Menurut catatan Sir Thomas Stamford Raflles saat melakukan ekspedisi ke Sumatera tahun 1818, menuliskan bahwa Raffles meyakini teknologi kincir air tradisional di Minangkabau merupakan teknologi asli Minangkabau, dimana Raffles belum pernah melihat teknologi kincir air itu di daerah lain di Nusantara atau Hindia Timur seperti Jawa.”

“Yayasan Umar Kayam sedang melakukan penelitian dan pendokumentasian mengenai kincir air tradisional tersebut dengan cara merestorasi (membuat kembali, red) kincir air tradisional untuk pengairan sawah menggunakan bahan bambu, kincir air untuk penumbuk tepung menggunakan bahan kayu, serta kincir air untuk listrik,” lanjut Marjito Iskandar.

Lebih lanjut Budhi Hermanto selaku salah satu peneliti Yayasan Umar Kayam juga menerangkan bahwa mereka mendokumentasikan proses pembuatan, perakitan, dan pengoperasiannya menggunakan format video, fotografi, animasi, audio dan catatan.

Baca juga:
Dari Gugup Jadi Pede, Siswa SMA Negeri 8 Yogyakarta Ikuti Pelatihan Public Speaking Bersama Mahasiswa Amikom
AI Website Builder, Begini Cara Cepat Membangun Website
Festival Film Horor Pertama di Indonesia Digelar di Bibir Laut Pacitan
Ayura Yosih Luncurkan Leisure

“Kami membayangkan kelak bisa menghasilkan arsip data dan dokumen dalam format digital sebagai sumber pengetahuan bagi generasi mendatang tentang kincir air tradisional di Sumatera Barat ini,” ujar Budhi Hermanto

Salah satu kincir air tradisional berbahan bambu yang telah berhasil dibuat dan didokumentasikan adalah kincir air berdiameter kurang lebih 8 meter di sungai/batang Sinamar, Kecamatan Payakumbuh, Kabupaten Limapuluh Kota. Kincir air ini mampu mengairi sawah hingga 4 hektar.

Proses restorasi dan pendokumentasian masih dilakukan untuk kincir air untuk mikrohidro/pembangkit listrik tenaga berskala kecil di Palembayan, Kabupaten Agam, dan kincir air tradisional untuk penumbuk beras/tepung di Pariaman.

Baca juga:
Ini Perbedaan Gula Jawa, Gula Aren, dan Gula Palem
Apa Itu Banaspati, Sosok Api Yang Beterbangan
Jebul Ada Manfaat Garuk-garuk Kepala Saat Stres
5 Topik Pembicaraan Untuk Basa-Basi yang Tidak Menyebalkan

Tim peneliti Yayasan Umar Kayam memandang pendokumentasian ini penting dilakukan untuk melindungi dan merawat kelestarian kincir air tradisional, sekaligus bagian dari upaya pendidikan perubahan iklim bagi masyarakat, dimana perubahan iklim dewasa ini bisa memengaruhi ekologi air sungai yang menjadi elemen penting bagi keberlangsungan operasional kincir air. Misalnya, deforestasi bisa mengakibatkan debit air berkurang signifikan karena hutan berkurang/hilang, pun apabila hujan deras akan mengakibatkan banjir bandang yang merusak struktur bangunan kincir air tradisional. (25/04/26/26)

dhwSeng on InstagramdhwSeng on Tumblr
dhwSeng
Adminnya JogjaUpdate

dhwSeng

Adminnya JogjaUpdate

You May Also Like