JogjaUpdate.com ~ Kerajinan bukan sekadar komoditas dagang, melainkan representasi identitas budaya Yogyakarta. Sektor industri kecil dan menengah serta kerajinan merupakan salah satu pilar penting dalam perekonomian daerah, khususnya Daerah Istimewa Yogyakarta.
Puluhan pelaku industri kecil dan menengah (IKM) serta pelaku ritel di Yogyakarta mengikuti Gelar Potensi Industri Kerajinan Jogja 2026, sebuah pameran produk kerajinan dan industri lokal yang diselenggarakan 6-8 Maret 2026 di Alun-alun Royal Ambarrukmo Yogyakarta.
Gelar Potensi Industri Kerajinan Jogja 2026 diselenggarakan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi DI Yogyakarta, sengaja diselenggarakan saat bulan Ramadan, mengambil momentum Ramadan dan menjelang Idul Fitri sekaligus menyambut Hari Jadi ke-271 Provinsi DI Yogyakarta.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi DIY, Yuna Pancawati, mengungkapkan kegiatan Gelar Potensi Industri Kerajinan Jogja 2026 untuk memperluas akses pasar sekaligus memperkuat daya saing produk lokal di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat saat Ramadan dan menjelang Lebaran.
“Kegiatan ini juga diselenggarakan dalam rangka menyambut Hari Jadi DI Yogyakarta sekaligus momentum Ramadan dan menjelang Idul Fitri,” ungkapnya di sela acara Sabtu (7/3/2026)
Gelar Potensi Industri Kerajinan Jogja 2026 menjadi upaya pemerintah daerah untuk mendorong penggunaan produk dalam negeri sekaligus memperluas pemasaran bagi pelaku IKM di Yogyakarta.
Yuna menjelaskan juga, “Melalui kegiatan ini kami ingin mendorong peningkatan penggunaan produk dalam negeri, memperluas akses pemasaran bagi IKM, serta memperkuat daya saing industri kerajinan di Daerah Istimewa Yogyakarta”.

Sekitar 50 pelaku IKM dari berbagai subsektor turut berpartisipasi, mulai dari kerajinan, tekstil atau batik hingga produk makanan dan minuman.
Para peserta yang mengikuti Gelar Potensi Industri Kerajinan Jogja 2026 telah melalui proses pendaftaran dan kurasi. Seluruh pelaku usaha yang terlibat merupakan IKM yang memproduksi sendiri produknya serta telah memiliki legalitas usaha.
“Peserta berasal dari subsektor kerajinan, tekstil atau batik, serta makanan dan minuman. Semua merupakan pelaku IKM yang memproduksi sendiri produknya dan sudah memenuhi persyaratan legalitas usaha,” tambahnya.

Selain pameran produk, kegiatan ini juga diisi dengan berbagai agenda pendukung seperti talkshow mengenai pemberdayaan IKM, strategi pemasaran, hingga perkembangan ekonomi syariah. Berbagai hiburan juga ditampilkan untuk masyarakat yang datang menjelang waktu berbuka puasa.
Yuna berharap Gelar Potensi Industri Kerajinan Jogja 2026 ini tidak hanya menjadi ruang promosi bagi pelaku usaha, tetapi juga mampu meningkatkan nilai transaksi serta membuka peluang pasar baru bagi produk industri dan kerajinan dari Yogyakarta.
“Harapannya melalui kegiatan ini dapat terjadi peningkatan nilai transaksi, perluasan akses pasar, serta penguatan industri kerajinan di DIY,” katanya.

Mewakili Sekretaris Daerah DIY, Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Perekonomian dan Pembangunan, Noviar Rahmad, dalam sambutannya saat membuka Gelar Potensi Industri Kerajinan Jogja 2026 menyampaikan bahwa sektor IKM sektor industri kecil dan menengah memiliki peran strategis dalam perekonomian daerah. Menurutnya, kerajinan bukan sekadar komoditas dagang, melainkan representasi identitas budaya dan ekonomi kreatif.
“Sektor industri kecil dan menengah serta kerajinan merupakan salah satu pilar penting dalam perekonomian daerah, khususnya Daerah Istimewa Yogyakarta. Selain berperan dalam membuka lapangan kerja, sektor ini juga menjadi bagian dari identitas budaya serta kekuatan ekonomi kreatif yang dimiliki oleh Yogyakarta,” ujar Noviar.
Pemda DI Yogyakarta terus berkomitmen mendorong pengembangan sektor industri dan kerajinan agar semakin inovatif dan memiliki daya saing tinggi, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Dia menambahkan, kegiatan seperti pameran Gelar Potensi Industri Kerajinan Jogja 2026 ini juga menjadi ruang pertemuan antara pelaku usaha, pemerintah, dan masyarakat untuk memperkuat jejaring serta mempromosikan produk lokal.
Melalui kegiatan seperti ini diharapkan tercipta ruang promosi, pertukaran ide, serta penguatan jejaring antara pelaku industri, pemerintah dan masyarakat.
Dengan momentum Ramadan dan menjelang Idul Fitri yang identik dengan meningkatnya konsumsi masyarakat, pameran ini juga menjadi kesempatan bagi pelaku IKM untuk memperkenalkan produk mereka kepada pasar yang lebih luas.
Acara Gelar Potensi Industri Kerajinan Jogja 2026 ini dibiayai sepenuhnya melalui APBD DIY. Selain pameran dan diskusi bisnis, masyarakat juga disuguhi hiburan rakyat seperti pertunjukan wayang kulit sebagai bagian dari rangkaian ngabuburit atau menunggu waktu berbuka puasa di tengah suasana bulan Ramadan. (100326/26)
Berita terkait:
Gelar Potensi Industri Kerajinan Jogja 2026, Memperkuat Daya Saing Industri di DI Yogyakarta
Kerajinan Bukan Sekadar Komoditas Dagang, Melainkan Representasi Identitas Budaya Yogyakarta
Kerajinan dan Industri Kerajinan Kecil Menengah Menjadi Pilar Perekonomian Yogyakarta



