JogjaUpdate.com ~ Bagi sebagian orang, kacamata sudah menjadi kebutuhan bahkan tidak bisa dilepaskan dari kegiatan sehari-hari. Dan bukan hanya karena masalah pengelihatan, kacamata juga telah menjadi barang fashion untuk meningkatkan penampilan. Namun tahukah kamu sejarah kacamata dan siapa penemunya?
Banyak orang yang mengetahui penemu kacamata adalah Benjamin Franklin, seorang ilmuwan Amerika Serikat. Pada tahun 1784, Benjamin Franklin mengklaim telah menemukan alat bantu pengelihatan ini. Namun ternyata, jauh sebelumnya kacamata ini sudah ada dan telah banyak digunakan.
Sekitar 3000 tahun yang lalu, bangsa dari kota tua di Niniwe telah menggunakan alat bantu pengelihatan. Di mana waktu itu fungsinya sebagai kaca pembesar saja, yang dibuat dari batu kristal. Namun memang alat ini bukan seperti kacamata yang kita kenal saat ini, melainkan kaca pembesar.
Lalu pada 54 sampai 68 Masehi diketahui Nero, Kaisar Roma telah menggunakan batu permata cekung untuk membaca hingga menonton pertunjukan. Walaupun tidak diketahui apakah Nero memang memiliki masalah pengelihatan atau tidak. Namun alat yang digunakan Nero ini sering disebut sebagai cikal bakal kacamata.
Cina
Perkembangan kacamata paling terasa di Cina sejak abad XII yang menggunakan kacamata secara lazim seperti sekarang. Kala itu Cina telah bisa membuat lensa kacamata sederhana, namun pemakainanya cukup merepotkan. Awalnya hanya dua buah besar tanpa bingkai yang disambung dan dicantolkan pada hidung.
Perkembangannya pun akhirnya menggunakan bingkai dari tempurung kura-kura, dan mulai ada cantolan agar tidak mudah jatuh. Ada yang terbuat dari kawat yang diberi pemberat dan dicantorkan pada telinga. Namun ada juga yang diikatkan pada topi, dan ada juga yang diikatkan pada kain di pelipis.
Namun bagi bangsa Cina, kacamata bukan sekedar alat bantu pengelihatan saja. Karena Kacamata ini dianggap sebagai jimat, juga sebagai barang fashion agar mereka terlihat berwibawa. Bahkan di jaman itu, bangsa Cina sudah ada yang cuma mengenakan bingkai kacamata saja tanpa lensa.
Eropa
Perkembangan kacamata juga terjadi di kawasan Eropa, yang awalnya hanya sebagai kaca pembesar saja. Yang awalnya menggunakan lensa tunggal dan dipegan satu tangan pun berubah jadi lensa ganda. Penggunaan lensa ganda ini ditujukan agar bisa diberikan gagang untuk dikaitkan dengan telinga.
Gagang kacamata sempat dihilangkan dan digantikan dengan pita atau tali agar bisa diikatkan ke kepala. Dan di masa itu orang menggunakan kacamata per, yaitu kacamata yang dijebit dengan alat sejenis peniti ke atas hidung. Akhirnya, lama kelamaan muncul ide mengguakan kawat kengkok yang dikeraskan untuk dicantolkan ditelinga.
Sedangkan kacamata yang telah menggonakan lensa pengkoreksi pengelihatan, telah digunakan Abbas Ibn Firnas. Ilmuwan dari abad ke-9 ini menemukan cara untuk memproduksi lensa yang amat jernih. Lensa ini ada dibentuk dan diasah menjadi batu bulat yang dapat digunakan untuk membaca sehingga terkenal dengan istilah batu membaca.
Barulah pada akhir abada ke-13, Sir Joseph Needham menemukan penggunaan kaca sebagai lensa lebih baik daripada batu transparan. Ilmuwan dan sejarawan Inggris ini juga mengungkapkan kalau kacamata ditemukan 1000 tahun lalu di Cina dan tersebar ke seluruh dunia pada zaman kedatangan Marco Polo pada tahun 1270.
Benjamin Franklin
Akhirnya barulah pada tahun 1784, ilmuwan Benjamin Franklin berhasil menyempurnakan dan menemukan kacamata bifokal. Yaitu kacamata yang dapat digunakan untuk melihat jarak jauh maupun jarak dekat. Dari apa yang dibuat Benjamin Franklin inilah yang akhirnya membawa perkembangan kacamata hingga seperti sekarang. (220917)
sumber:
http://www.optikmelawai.com/kacamata-lensa/sejarah-kacamata-dan-lensa-kontak.html
https://id.wikipedia.org/wiki/Kacamata




