Jebul Senyum Bisa Menular Lho!

JogjaUpdate.com (9/10/17), Walaupun bukan penyakit, tapi ternyata senyum bisa menular lho. Sampai ada perkataan “tersenyumlah, makan dunia akan ikut tersenyum.” Jebul perkataan ini bukan omong kosong saja, dan telah banyak yang membuktikan senyum bisa menular.

Percobaan paling mudah adalah ketika kamu ketemu dengan seseorang, dan ia tersenyum padamu. Secara tidak sacar kamu akan ikut tersenyum padanya. Hal ini ternyata terjadi bukan hanya pada kamu saja, tapi juga di berbagai belahan dunia. Entah apa alasannya, orang secara otomatis akan membalas senyuman.

Pada Hari Senyum Internasional yang dirayakan setiap Jumat pertama di bulan Oktober, para ilmuwan mengungkapkan alasannya. Menurut study yang dipublikasikan journal Trends in Cognitive Sciences, psikolog Paula Niedenthal dan Adrienne Wood mencari tahu mengapa kita menirukan ekspresi seseorang yang berbicara padanya.

Dari salah satu kesimpulan yang didapat, kita cenderung memasang raut yang sama saat berkomunikasi dengan orang lain. Contonya, saat ada yang menyampaikan kabar baik dengan wajah gembira, secara tidak sadar kita akan menunjukan emosi yang sama lewat ekspresi wajah. Dengan begitu, kita bisa merasakan emosinya.

“Melalui ekspresi yang sama, kita akan bisa memberi penilaian lebih baik terhadap apa yang disampaikan seseorang, reaksi yang muncul dari emosi itu memberi persepsi atau frekuensi yang sama, sehingga kita lebih memahami konteksnya.” jelas Niedenthal.

Jadi salah satu alasan seseorang membalas senyuman orang lain adalah berusaha merasakan hal yang dirasakan orang tersebut. Dengan ekspresi sosial ini, manusia menjalin komunikasi dan pengertian lebih mendalam dengan orang di sekitarnya. Meski demikian, ada beberapa orang yang tidak bisa secara otomatis membalas senyuman.

Dalam penelitian, para psikolog mencatat beberapa orang yang mengalami kelainan saraf tertentu mungkin tidak bisa membalas senyuman. Atau juga tibak bisa secara akurat menirukan ekspresi orang lain. Walaupun ia menyadari seseorang sedang tersenyum padanya, ia tidak bisa selalu membalasnya secara otomatis.

“Ada beberapa gejala yang ditemui pada pengidap autisme di mana seseorang tidak bisa meniru ekspresi karena kurangnya kontak mata atau karena ketidakmampuan memahami ekspresi,” lanjut Niedenthal.

Walaupun ada pengecualian diatas, pada kebanyakan orang, ekspresi wajah menjadi bagian dalam berkomunikasi antar manusia. Ekspresi bisa membantu membangun hubungan dengan orang lain secara alami. Jadi apakah senyum bisa menular? secara pasti jawabanya adalah, iya bisa!

Agung Pratnyawan on FlickrAgung Pratnyawan on GoogleAgung Pratnyawan on InstagramAgung Pratnyawan on Twitter
Agung Pratnyawan
Content Writer
Freelance Content Writer and Web Developer

Agung Pratnyawan

Freelance Content Writer and Web Developer

You May Also Like