Inilah Penjelasan Ilmiah Mengapa Angop Itu Bisa Menular

JogjaUpdate.com (4/9/17), Menguap atau kalau orang Jawa bilang angop, merupakan tanda-tanda seseorang ngantuk. Gerakan membuka mulut lebar-lebar sebagai pertanda mengantuk ini ternyata bisa menular lho. Jebul memang bisa menular dan ada penjelasan ilmiah mengapa ini bisa terjadi.

Dari hasil temuan penelitian di Inggris, menularnya menguap ini terkait dengan suatu daerah pada otak yang mengurusi fungsi motor. Para ilmuwan menyebutkan kejadian ini sebagai menguap yang menular, termasuk jenis echophenomenon. Atau menurut laporan dalam jurnal Current Biology yang terbit Kamis, 31 Agustus 2017 disebut imitasi otomatis.

Ada beberapa jenis lain echophenomenon, seperti echolalia yang mengimitasi perkataan seseorang. juga echopraxia yang mengimitasi tindakan orang lain. Dan ini tidak hanya menimpa pada manusia saja, beberapa hewan seperti anjing dan simpase juga terkena gejala ini. Sayangnya penularan menguap dari orang ke hewan atau hewan ke hewan belum dketahui alasannya.

Para peneliti mengamati 36 orang dewasa yang diminta menonton beberapa tayangan video yang menampilkan orang lain menguap. Dengan menggunakan stimulasi magnetik lintas tengkorak (transcranial magnetic stimulation, TMS), peneliti mengukur kegiatan otak selama eksperimen.

Dalam satu eksperimen, peserta ditanya apakah mereka mencoba meredam menguap atau mereka menguap dengan bebas ketika menyaksikan tayangan tersebut. Kemudian, para peserta diminta melakukan hal sebaliknya.

Dalam satu eksperimen lainnya, para peserta diberikan perintah yang sama, tapi para peneliti memberikan aliran listrik ke kulit kepala. Arus listrik ini dimaksudkan untuk merangsang bagian korteks motor yagn diduga mengendalikan menguap. Selama eksperimen, mereka juga diminta untuk mengira-ngira dorongan untuk menguap dan memberi nilai pada suatu skala geser.

Dan hasilnya, hanya sebagian peserta saja yang berhasil meredam rasa ingin menguap. Disebutkan bahwa menguap lebar-lebar menjadi lebih sedikit. Sedangkan menguap yang tertahan menjadi lebih sering.

Ketika para peserta diperintahkan untuk menahan menguap, dorongan untuk menguap malah meningkat. Profesor neuropsikologi kognitif di University of Nottingham, Inggris, Georgina Jackson mengungkapkan bahwa dorongan untuk menguab bertambah karena kita mencoba menghentikannya.

Selain itu, diungkap juga adanya kaitan kegiatan otak di bagian korteks motor orang tersebut. Semakin tinggi kegiatan di daerah otak itu, yang bersangkutan akan semakin berkecenderungan menguap. Terbukti, ketika para peneliti menerapkan arus listrik ke bagian otak yang dimaksud, dorongan untuk menguap meningkat.

Temuan ini memiliki implikasi pada beberapa penyimpangan neurologis, misalnya sindrom Tourette yang membuat orang kesulitan mengekang tindakan-tindakan tertentu. Menurut Stephen Jackson, profesor ilmu saraf kognitif di University of Nottingham, jika kita mengerti pemicu pada korteks yang menjadi penyebab gangguan saraf, mungkin bisa membalik gangguan.

Agung Pratnyawan on FlickrAgung Pratnyawan on GoogleAgung Pratnyawan on InstagramAgung Pratnyawan on Twitter
Agung Pratnyawan
Content Writer
Freelance Content Writer and Web Developer

Agung Pratnyawan

Freelance Content Writer and Web Developer

You May Also Like