Apakah Benar Tempe Pertama Kali Dibuat di Bayat, Klaten?

JogjaUpdate.com ~ Siapa yang tidak suka tempe? makanan asli Indonesia kaya gizi yang juga bisa digunakan sebagai pengganti daging karena kandungan vitamin B12nya. Tempe telah diajukan ke UNESCO sebagai warisan budaya Indonesia. Apakah benar tempe pertama kali dibuat di Bayat, Klaten?

Sejak dulu tempe dikenal di Indonesia. Menurut bukti sejarah, tempe pertama kali dibuat di daerah Bayat, Klaten, Jawa Tengah, dan biasa dikonsumsi sekitar tahun 1700. Cara pembuatan tempe unik dan tradisional, mulai dari pembersihan dan perebusan kedelai, dilanjutkan peragian hingga fermentasi.

Tempe lalu menyebar ke sejumlah daerah. Hingga kini, ada setidaknya 100.000 perajin tempe di Indonesia. Mayoritas perajin ialah pelaku usaha kecil dan menengah dengan kapasitas produksi 10 kilogram sampai 2 ton sehari. Dengan meluasnya pasar, cara pembuatan tempe kian beragam. Pembuatan tempe di Malang, misalnya, melalui dua kali perebusan, sedangkan di Yogyakarta satu kali perebusan.

Perhimpunan Pakar Gizi dan Pangan (Pergizi Pangan) Indonesia bersama Forum Tempe Indonesia mengajukan tempe sebagai warisan budaya nonbenda atau intangible cultural heritage of humanity (ICHH) yang diakui Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO).

Dilansir dari National Geographic Indonesia, Ketua Forum Tempe Indonesia Prof Made Astawan menjelaskan, pihaknya menginisiasi agar tempe diakui sebagai warisan budaya Indonesia, pihaknya menginisiasi hal itu pada 2014 dilanjutkan pengumpulan data awal tahun ini. Pada 2016, pengumpulan dokumen masuk tahap akhir dan akan disampaikan ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Pada 2017, pihaknya akan mengajukan ke UNESCO dan dokumen itu diharapkan diterima UNESCO pada 2018.

Pihaknya juga menggalang dukungan masyarakat secara daring. Hingga 29 Juli 2015, terkumpul 19.000 dukungan. Komunikasi dilakukan dengan sejumlah pihak. Salah satu penilaian UNESCO ialah cara pemerintah memelihara kesinambungan budaya itu. Tujuan dilakukan semua itu adalah agar budaya konsumsi dan produksi tempe tidak hilang serta diklaim oleh negara lain.

Indonesia terbiasa mengkonsumsi tempe, sehingga Indonesia jadi negara dengan konsumsi kedelai tebesar di dunia. Rata-rata kebutuhan kedelai Indonesia 2,5 juta ton per tahun dan 90 persennya untuk kebutuhan pangan, terutama diolah jadi tempe. Bagi masyarakat Indonesia, tempe bukan sekadar makanan, melainkan punya nilai budaya, sejarah, dan ekonomi bangsa. Karena itu, tempe layak jadi simbol budaya. Yogyakarta (050317)

jogupcom on Instagramjogupcom on Tumblr
jogupcom
Adminnya JogjaUpdate

jogupcom

Adminnya JogjaUpdate

You May Also Like