Malam Satu Suro Dalam Tradisi Jawa

JogjaUpdate.com (20/9/17), Mungkin banyak yang mengetahui Malam Satu Suro melalui film layar lebar yang dibintangi Suzzana. Dan melalui cerita-cerita yang merebak dan banyak dipercayai kalau malam yang satu ini sebagai malam kramat. Kepercayaan akan mistisnya malam yang satu ini memang banyak merebak di masyarakat Jawa.

Satu suro adalah hari pertama dalam kalender penanggalan Jawa di bulan pertama, yaitu bulan Sura atau Suro. Yang bertepatan dengan 1 Muharram dalam kalender Hijriyah, karena kalender Jawa yang diterbitkan Sultan Agung mengacu penanggalan kalender Hijriyah atau kalender Islam.

Masyarakat Jawa memperingati pada malam hari setelah Magrib pada hari sebelum tanggal satu. Karena dalam pergantian hari dalam dalam penanggalan Jawa dimulai pada saat matahari terbenam dari hari sebemunya. Bukan pada tengah malam seperti pergantian hari dalam kalender Masehi.

Kemistisan malam kramat ini sendiri membuat banyak cerita yang berkembang di masyarakat. Banyak yang mempercayai malam ini sebagai lebarannya para makhluk halus. Sehingga banyak diantara makhluk halus ini dipercayai akan keluar dari tempat persembunyiannya untuk merayakan.

Memang terkesan mitos yang berlebihan, namun hal ini banyak dipercayai oleh masyarakat. Sehingga tidak jarang muncul larangan melakukan hal tertentu di Malam Satu Suro bahkan di bulan Suro. Seperti larangan menggelar hajatan seperti pernikahan sepanjang bulan Suro.

Di masyarakat Jawa sendiri, Malam Satu Suro dianggap kramat terlebih bila jatuh pada jumat legi. Untuk sebagian masyarakat pada malam satu suro dilarang untuk ke mana-mana kecuali untuk berdoa ataupun melakukan ibadah lain. Tidak hanya itu, banyak upacara tradional yang digelar.

Dalam masyarakat Jawa, terutama Yogyakarta dan sekitarnya biasanya melakukan tirakatan atau tidak tidur semalam suntuk. Ada pula yang melakukan tradsisi tuguran, atau perenungan diri sambil berdoa. Ada yang menggelar Pagelaran Wayang Kulit dan tradisi kungkum atau berendam di sungai, sendang atau sumber mata air.

Para pemilik benda pusaka pun biasanya melakukan ritual yang disebut Jamasan. Yaitu ritual memandikan atau membersihkan barang-barang pusaka yang mereka miliki, seperti keris dan tombak. Selain bertujuan menyucikan kembali benda pusaka miliknya, juga dilakukan perawatan agar terjaga keutuhannya.

Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat juga memiliki tradisi mengarak benda pusaka mengelilingi benteng keraton. Arak-arakan ini juga diikuti oleh masyarakat Jogja dengan tengan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Biasanya ritual ini dikenal dengan istilah tapa bisu mubeng beteng.

Namun yang lebih penting dari bermacam ritual dan tradisi yang dilakukan saat Malam Satu Suro adalah makna dibalik semua itu. Masyarakat Jawa memaknai tradisi tersebut sebagai pengingat agar mereka selalu eling lan waspodo. Dan bukan cuma barang pusaka yang dirawat, namun juga hati yang dibersihkan.

Agung Pratnyawan on FlickrAgung Pratnyawan on GoogleAgung Pratnyawan on InstagramAgung Pratnyawan on Twitter
Agung Pratnyawan
Content Writer
Freelance Content Writer and Web Developer

Agung Pratnyawan

Freelance Content Writer and Web Developer

You May Also Like