Kisah Misteri: Siman Digondol Wewe

JogjaUpdate.com (27/9/17), Ini adalah kisah seorang anak bernama Siman (bukan nama sebenarnya) yang malas belajar dan sering mendapat nilai buruk. Ia juga sering mengantuk dan tertidur di tengah pelajaran. Hingga saat kenaikan kelas, Siman dinyatakan tidak naik. Ia tidak berani pulang karena takut dimarahi orang tuanya.

Ia bersembunyi di bukit sebelah desa yang rimbun pepohonan. Siman duduk sambil nangis, ketakutan jika orang tuanya tahu Ia tidak naik kelas. Hingga sore menjelang petang ia masih bersembunyi tidak berani pulang kerumah. Di tengah persembunyiannya, rasa lapar datang. Siman tidak tahu harus apa karena tidak ada yang bisa ia makan.

Tiba-tiba sesosok nenek tua compang camping datang menghampirinya sambil bertanya: “kowe ngopo le dewean neng kene karo nangis?” (kamu kenapa nangis sendirian di sini). Siman hanya diam mengusap air matanya sambil memegangi perutanya yang kelaparan. Lalu terdengar bunyi “grok.. grok” dari perut siman pertanda lapar.

“Kowe ngeleh le? iki aku ono pisang godog nek kowe gelem panganen” (ini aku ada pisang rebus, kalau mau makanlah) kata nenet tua tadi sambil mengatungkan pisang rebus. Karena lapar, tanpa berpikir panjang Siman pun mengulurkan tangan hendap mengambil pisangnya yang tiwarkan.

Namun siapa sangka itu bukan pisang, tapi jari tangan si nenek tua. “Sreetttt…..” jari-jari tangan nenek tua tersebut langsung menggemgam tangan Siman dan menariknya. Sosok nenek tua tadi langsung membawa kabur Siman dengan cepat ke tempat persembunyiannya di pohon Randu Alas tengah pemakaman.

Langit mulai gelap dan di rumah, orang tua siman mulai mencari-cari kemana anaknya. Ditanya ke tetangga-tetgangga dan teman-teman Siman namun tidak ada yang tahu keberadaannya. Orang tua Siman meminta bantuan Pak Dukuh dan para tetua desa untuk mencari anaknya.

Tetua desa menduga Siman hilang diculik Wewe, makan disuruhnya pria-pria dewasa berkumpul sambil membawa perkakas dapur. Dari alat masak, soblok, tampak, dan botol pun dibawa untuk membuat bunyi-bunyian yang bisa terdengar “blek… blek… Ting… Blek… blek.. ting”. Diiringi teriakan “Anakku ono nggendi” (anakku dimana).

“blek… blek… Ting… Blek… blek.. ting… anakku ono nggendi…” terdengar rombongan tersebut berkeliling darai sudut ke sudut desa mencari Siman. Siman  bisa mendengar suara yang mencarinya namun tidak bisa membalas karena mulutnya disumpal. Ketika rombongan berjalan menjauh, wewe itu membuka sumpalan di mulut Siman.

Lalu berteriaklah dia, “Bapak aku ono kene” (Bapak aku ada disini).

Rombongan pencari tersebut kaget mendengarnya dan berusaha mencari dari mana sumber suara tersebut. Ketika rombongan ini mendekat pemakaman, mulut Siman kembali disumpal. Orang-orang mulai bingung darimana sumber suara teriakan tersebut. Lalu melanjutkan berjalan kembali.

“blek… blek… Ting… Blek… blek.. ting… anakku ono nggendi…” rombongan meneruskan jalan mencari Siman.

Ketika rombongan berjalan menjauhi pemakanan dibukalah kembali dan bertiaklah siman “Bapak aku ono kene”. Orang-orang di rombongan itu akhirnya yakin jika suaran teriakan Siman berasal dari area pemakaman. Mereka pun memutuskan untuk fokus mencari di tempat tersebut, namun belum menemukannya.

Tetua desa pun meyakini Siman disembunyikan diatas pohon Randu Alas tengah pemakaman tersebut. Ia memutuskan untuk memanjatnya sambil membawa obor. Karena ketakutan obor yang dibawa tetua desa memanjat pohon, Wewe tersebut tebang kabur meninggalkan Siman disana.

Siman pun ditemukan dengan keadaan mulut tersumbat gombal diatas pohon Randu Alas tersebut. Setelah dibawa turun, Siman pun dibawa pulang ke rumah orang tuanya dan orang-orang kembali ke rumah masing-masing. Siman diberi makan karena lemah kelaparan lalu beristirahat.

Semenjak kejadian ini, Siman berubah tidak mau lagi membuat orang tuanya khawatir. Ia jadi anak yang rajin belajar hingga nilainya bagus dan naik kelas. Siman kini telah menjadi orang sukses yang merantau ke kota besar. Ia juga telah membantu perekonomian keluarganya dari kesusahan.

Kisah Siman digondol Wewe ini sering diceitakan oleh orang tua sebagai dongeng pengantar tidur anaknya. Dengan pesan agar anaknya selalu rajin belajar dan terus naik kelas. Kalau tidak naik kelas nanti takut tidak berani pulang, hingga di gondol Wewe seperti yang terjadi pada Siman.

Agung Pratnyawan on FlickrAgung Pratnyawan on GoogleAgung Pratnyawan on InstagramAgung Pratnyawan on Twitter
Agung Pratnyawan
Content Writer
Freelance Content Writer and Web Developer

Agung Pratnyawan

Freelance Content Writer and Web Developer

You May Also Like