‘TANGIS’ Mengkritik Dengan Guyonan Cerdas Ala Teater Gandrik

tamanismailmarzuki.co.id

Yogyakarta (02/01/15), Teater Gandrik, dengan semangat guyon pari keno, mengkritik dengan guyonan yang mencerdaskan, akan kembali menghadirkan karya terbarunya yang diberi tajuk ‘Tangis’. Mendapat inspirasi dari peristiwa mutahir Republik ini, TANGIS juga merupakan adonan baru dua naskah akhir tahun 1980an karya alm. Heru Kesawa Murti, yaitu TANGIS dan JURAGAN ABIYOSO.

Sudah sejak lama air mata menjadi senjata berbagai rupa, mulai dari trik mendapatkan iba, hingga pintu masuk mendapatkan jabatan. Di dunia politik Republik ini, TANGIS tak jarang diumbar ke publik, dihadapkan ke kamera infotainment, dan bahkan wartawan politik sekalipun bentuk tanggungjawab (palsu) kepada konstituen yang diwakilinya. Moral macam ini bagi virus yang mudah menular karena hasilnya sungguh ciamik. Lumayan, usahanya ringan, untungnya banyak!

TANGIS yang mulanya diinisiasi sebagai pertunjukan dramatic reading, seperti menemukan jalannya sendiri sebagai teater rakyat yang interaktif. Tidak sekedar menuntut tepuk tangan dan celetukan penonton yang tergerak karena disentil tema pertunjukan, namun penonton dipaksa terlibat di dalam masalahnya. Di belahan lain bumi, bentuk-bentuk macam ini disebut sebagai “Teater Penyadaran” yang dipopulerkan oleh Augusto Boal.

Pertunjukan yang sedianya akan di gelar pada tanggal 11-12 Februari 2015 di Concert Hall, Taman Budaya Yogyakarta ini akan menyuguhkan aksi yang berbeda dari bentuk pemanggungan (artistik), pertunjukan kali ini menghadirkan pilihan baru.

jogupcom on Instagramjogupcom on Tumblr
jogupcom
Adminnya JogjaUpdate

jogupcom

Adminnya JogjaUpdate

You May Also Like