Sewon, Bantul Jadi Tuan Rumah Biennale Jogja XIII Equator #3

Yogyakarta (01/10/15), Perhelatan besar seni rupa yang rutin diselenggarakan setiap dua tahun sekali yakni, Biennale Jogja (BJ) kembali hadir di Yogykarta.

Yayasan Biennale Yogyakarta (YBY) dan Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta. Pada tahun 2011, YBY meluncurkan proyek Biennale Jogja seri Ekuator (Biennale Equator). Seperti ditunjukkan pada namanya, Biennale Equator adalah Biennale yang bekerja di kawasan Khatulistiwa.

BJ seri Equator ini akan membawa Indonesia, khususnya Yogyakarta, mengelilingi planet Bumi melintasi garis selama 10 tahun. Ini adalah serangkaian pameran dengan agenda jangka panjang yang akan berlangsung sampai dengan tahun 2022.

Dalam setiap penyelenggaraannya, Biennale Equator akan bekerja sama dengan satu atau lebih negara atau kawasan di sekitar Katulistiwa. Pada perhelatan BJ XIII 2015 – Equator #3 kali ini, YBY mempertemukan Indonesia dengan salah satu negara di Benua Afrika yaitu Nigeria.

Bersinergi dengan pemerintahan Desa Panggungharjo, perhelatan ini sekaligus menandai dibukanya rangkaian kegiatan peringatan Hari Ulang Tahun Desa Panggungharjo, hingga bulan Desember 2015. Sebagai upaya untuk mendukung dan menyongsong perhelatan besar ini, diselenggarakan beragam kegiatan yang menampilkan kreativitas dan potensi masyarakat lokal.

Salah satunya ditunjukkan dalam Panggung Literasi Selatan (PLS). Kegiatan ini merujuk pada lokasi penyelenggaraan, yaitu di Desa Pangguharjo, Sewon, Bantul. Terbagi dalam tiga titik di desa yang potensial ini, warga desa menghadirkan pelbagai pontensinya untuk dapat diangkat ke panggung internasional.

Panggung Literasi Selatan (PLS) akan diselenggarakan mulai tanggal 2-4 Oktober 2015 dan mengambil tempat di Dusun Prancak Glondong (Halaman Radio Buku, Jl. Sewon Indah I), Dusun Pandes (Kantor Kelurahan Panggungharjo), dan Lapangan Prancak (Utara Kampus ISI Yogyakarta.

Maka tak berlebihan jika tagline yang dipakai adalah Dari Panggungharjo ke Panggung Internasional yang dikemas dalam tema besar “Emansipasi Desa: Kebudayaan, Ritus dan Pengetahuan”.

Kerjasama perhelatan juga melibatkan komunitas lain seperti Bunda Kata, Grup-grup Kesenian Desa Panggungharjo, MojokDotCo, Pindai, Jombloo, Minum Kopi, Warung Arsip, Ngopi Nyastro, Kamissinema ISI, RKSD, Jawigrapgy, Warkop Bintang Mataram 1915, Dongeng Kopi, Komunitas Kretek, dan kolektor-kolektor zine dari Yogyakarta, Bandung, dan Solo.

jogupcom on Instagramjogupcom on Tumblr
jogupcom
Adminnya JogjaUpdate

jogupcom

Adminnya JogjaUpdate

You May Also Like