Registrasi Kartu SIM Prabayar Bikin Resah Pelaku Cyber Crime

JogjaUpdate.com (02/11/17), Baik di dunia nyata maupun dunia digital, tidak lepas dengan tindak kejahatan. Tindak kejahatan digital atau sering disebut cyber crime berbagai aksinya seperti menipu, mencuri, hingga merusak melalui dunia digital. Namun dengan adanya registrasi kartu SIM prabayar, para pelaku cyber crime menjadi resah.

Banyak modus yang digunakan pelaku cyber crime dalam menggaet mangsanya. Seperti penipuan “mama minta pulsa”, SMS minta transfeer uang, hingga menagih kontrakan. Ada pula cara lama yang masih digunakan adalah tipuan berhadiah. Belakangan yang marak adalah sindikat bayaran untuk penyebaran hoax dan ujaran kebencian.

Menurut Staf Ahli Menteri bidang Hukum Kementrian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia, Prof Dr Henri Subiakto SH MA, sepertinya sekarang kejahatan cyber sudah menjadi profesi bagi sebagian masyarakat tertentu. Dan para pelaku cyber crime ini susah terlacak karena menggunakan nomor telepon tanpa identitas.

Dengan berbekal Kartu SIM yang dibeli dengan murah dan gampang, mereka bisa melakukan kejahatan kemudian langsung membuangnya. Dan keesokan harinya mereka bisa membeli lagi kartu SIM baru untuk mengulangi kejahatan lagi. Tidak heran kejahatan cyber pun menjadi marak, termasuk penyebaran hoax dan ujaran kebencian.

Dengan adanya program pemerintah untuk mewajibkan daftar ulang dengan menggunakan identitas tunggal yang terdaftar dalam data eKTP, membuat para pelaku cyber crime resah. Karena dengan adanya program ini, mereka lebih mudah terdeteksi. Mereka makin susah untuk menyembunyikan identitas mereka.

Dengan program daftar ulang ini, berarti siapun penipu dan penyebar ujaran kebencian maupun hoax akan lebih mudah terdeteksi. Program ini juga membuat orang tidak lagi bebas gonta ganti nomor telepon karena ada pembatasan. Identitas pemilik kartu jadi makin jelas, dan peluang melakukan kejahatan jadi menyempit.

Tidak heran program registrasi ini mereka tentang habis-habisan dengan berbagai cara. Karena program registrasi dengan validasi identitas ini pasti akan merugikan secara politik dan ekonomi pagi pelaku cyber crime tersebut. Itulah kenapa mereka lalu membuat hoax macam-macam untuk menggagalkan program registrasi ini.

Tidak sedikit hoax yang muncul untuk menakut-nakuti masyarakat seakan ini akan dikriminalisasi dengan UU ITE. Ada yang menyebar hoax kalau program ini untuk mencuri data pribadi, padahal yang diminta cuma nomor NIK dan Nomor KK. Hingga ada hoax yang berisi tuduhan politik dikaitkan dengan Pilpres 2019.

Ujung-ujungnya para pelaku cyber crime ini mengajak masyarakat untuk menolak daftar ulang kartu SIM prabayar. Lewat penyebaran yang massif, mereka berharap masyarakat percaya dan program ini gagal. Jika program ini gagal, mereka bisa tetap menjalankan aksi penipuan, penyebaran hoax dan ujaran kebencian.

Sistem identitas tunggal yang terintegrasi dengan layanan publik dan keamanan ini sudah lama dicita-citakan, juga telah menjadi program pemerintah sebelumnya. Hanya karena ada hambatan eKTP, program ini sempat tertunda dan baru sekarang dapat diwujudkan juga dijalankan.

 

Agung Pratnyawan on FlickrAgung Pratnyawan on GoogleAgung Pratnyawan on InstagramAgung Pratnyawan on Twitter
Agung Pratnyawan
Content Writer
Freelance Content Writer and Web Developer

Agung Pratnyawan

Freelance Content Writer and Web Developer

You May Also Like