Istilah Khas Jogja Yang Sering Bikin Bingung Wisatawan

JogjaUpdate.com (24/10/17), Setiap daerah pasti punya budaya sendiri, termasuk dalam istilah yang digunakan dalam berkomunikasi sehari-hari. Termasuk dengan Jogja yang memiliki istilah atau kosakata sendiri yang jarang dimengerti orang lain. Tidak jarang wisatawan jadi bingung sendiri dengan istilah khas Jogja.

Baca Juga: Mau Ngintip Jogja Lewat CCTV? Gampang, Begini Caranya

Sebelumnya pernah kami bahas kosakata khas Jogja yang berkembang di masyarakat sejak lama. Buat para traveler atau wisatawan, pastinya bakal terheran-heran atau bingung dengan istilah khas Jogja. Untuk itu, berikut ini ada beberapa istilah yang harus diperhatikan sebelum berkunjung di Jogja.

1. Petunjuk Arah

Ini akan kamu temukan jika bertanya arah kepada warga asli Jogja, baik di kota besar maupun di pedesaan. Biasanya mereka akan memberitahu bukan dengan kanan atau kiri, tapi dengan arah mata angin dalam bahasa jawa. Lor artinya Utara, Kidul artinya Selatan, Wetan artinya Timur, dan Kulon artinya Barat.

Ini bisa terjadi karena umumnya mereka tidak buta arah, warga Jogja asli atau yang sudah lama tinggal di Jogja sudah punya kompas atau patokan arah mata angin. Mereka menggunakan alam sebagai kompas, misalnya matahai terbit di Timur dan tenggelam di Barat. Lalu Gunung Merapi sebagai penanda arah Utara.

2. Singkatan nama daerah

Orang Jogja suka menyingkat-nyingkat kalimat menjadi sebuah kosakata yang mudah diucapkan. Bahkan nama jalan pun disingkat untuk mempermudah pengucapannya. Sehingga muncul beberapa nama daerah yang tidak ditemukan di peta google. Misalnya, Jakal singkatan dari Jalan Kaliurang, Jamal singkatan dari Jalan Magelang.

Bukan hanya nama jalan yang disingkat, kadang nama pasar juga sering disingkat jadi nama baru. Misalnya Sarlegi, padahal nama resmi pasarnya Pasar Kotagede. Sarlegi berasal dari kata Pasar Legi, karena pasaran atau ramainya pasar ini setiap hari atau weton Legi dalam penanggalan Jawa.

Baca Juga: Kosakata Khas Jogja, Dari Walikan Sampai Singkatan

3. Bangdjo dan Burjo

Jika kamu bertanya pada orang setempat mengenai petunjuk arah, mungkin kamu akan menemukan kosakata Bangjo. Bukan Bang Joe, tapi Bangdjo, yang berasal dari singkatan Abang-Ijo atau Merah-Hijau. Yang dimaksud sebenarnya adalah lampu trafic light atau lampu lalulintas.

Di Jogja ada yang namanya Warung Burjo, yang merupakan singkatan dari Bubur Kacang Ijo. Banyak yang mengira jualannya Bubur Kacang Ijo. Namun Warung Burjo yang kamu temukan malah jualannya mie instan. Karena ada dua macam Warung Burjo di Jogja, yang beneran hanya jualan Bubur Kacang Ijo dan satunya jualan mie instan.

4. Shopping center

Dengan nama Shopping center, pasti dikiranya sebagai pusat perbelanjaan tempat orang mencari beragam kebutuhan. Namun kalau ke Shopping center di Jogja yang kamu temukan cuma buku-buku, dari buku novel hingga skripsian ada. Kamu tidak akan menemukan orang jualan baju, elektronik, atau sembako.

Baca: Asal Usul Nama Kampung Di Jogja

Agung Pratnyawan on FlickrAgung Pratnyawan on GoogleAgung Pratnyawan on InstagramAgung Pratnyawan on Twitter
Agung Pratnyawan
Content Writer
Freelance Content Writer and Web Developer

Agung Pratnyawan

Freelance Content Writer and Web Developer

You May Also Like