Instiper Yogyakarta Menjawab Tantangan Presiden Jokowi Untuk Menyiapkan Sarjana Sawit

JogjaUpdate.com (01/03/18), Presiden Joko Widodo pernah menyampaikan permintaanya di forum rektor agar perguruan tinggi agar membuka studi khusus untuk perkebunan tanaman keras seperti Kelapa Sawit. Tantangan Presiden ini langsung ditanggapi oleh Institut Pertanian Stiper (Instiper) Yogyakarta.

Menanggapi keresahan Presiden akan kurangnya tenaga ahli dalam bidang Kelapa Sawit, Rektor Instiper Yogyakarta, Dr Ir Purwadi mengungkapkan Instiper telah lama menghasilkan sarjana dalam bidang ini. Sejak awal didirikan Instiper Yogyakarta telah fokus dalam perkebunan.

Instiper Yogyakarta telah lama bekerjasama dengan perusahaan swasta nasional yang bergerak dalam bidang perkebunan. Dan telah menyusun kurikulum fokus pada perkebunan Kelapa Sawit. Juga sebagai penerima beasiswa ikatan dinas dan magang dari perusahaan-perusahaan tersebut.

Belum lama ini Badan Pengelola Perkebunan Kelapa Sawit menugaskan Instiper Yogyakarta untuk mendidik anak petani dan buruh perkebunan Kelapa Sawit dari Aceh hingga Papua. Diluar itu, atas pendanaan swasta Instiper juga telah mendidik sekitar 21 kelas setingkat Diploma 1 dalam bidang Kelapa Sawit.

Dengan kepercayaan dari perusahaan besar, Instiper Yogyakarta juga menjadi pencetak dan pemasok SDM terbesar di Indonesia untuk perkebunan kelapa sawit dan industri turunannya. Instiper juga telah menjadi role model dalam penyelenggaraan pendidikan khusus bidang Kelapa Sawit.

“Instiper Kampus telah menjadi role model penyelenggaraan pendidikan khusus di bidang kelapa sawit. Instiper dikenal sebagai The Best Oil Palm University sarjana khusus kelapa sawit. Pada Agustus 2017, tercatat 858 orang mahasiswa baru,” ungkap Purwadi.

Diungkapkan, Instiper telah lama fokus pada bidang perkebunan, namun selama ini terhalang oleh peraturan pemerintah. Instiper yang awalnya sebagai institut perkebunan, harus mengikuti aturan pemerintah terpaksa berubah menjadi institut pertanian.

Wakil Rektor I Instiper, Dr Harsawardana M.Eng menyebutkan, Instiper harus mensiasati peraturan pemerintah tersebut agar tetap bisa mengajarkan bidang perkebunan. Bidang ini dipilih karena perkebunan mempunyai relevansi yang kuat terhadap dunia kerja.

Menurut Harsawardana, metode perkebunan sebenarnya bisa diaplikasikan bagi petani di masyarakat. Perbedaan yang menonjol antara pertanian dan perkebunan sebenarnya adalah pada tataran manajemen pengelolaan dan luas lahannya.

Agung Pratnyawan on FlickrAgung Pratnyawan on GoogleAgung Pratnyawan on InstagramAgung Pratnyawan on Twitter
Agung Pratnyawan
Content Writer
Freelance Content Writer and Web Developer

Agung Pratnyawan

Freelance Content Writer and Web Developer

You May Also Like