Ditemukan Mi Formalin, Pemkot Yogyakarta Akan Telusuri Di Pasar

JogjaUpdate.com (2/6/17), Pemakaian bahan berbahaya seperti formalin kadang disalahgunakan untuk makanan. Dan beberapakali ditemukan mi formalin diperjual belikan secara bebas di pasaran. Untuk itu pemerintah melakukan pengecekan pasar secara langsung untuk memastikan kemanan bahan makanan.

Dan kini Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan akan melakukan pengecekan bahan mi formalin makanan yang dijual bebas di pasaran. Jika memang benar ditemukan mi dengan kandungan bahan formalin di pasat Kota Yogyakarta, makan pedagan akan dilakukan pembinaan.

Menurut yang diberitakan Jogja.Tribunnews.com (31/05/17), seorang pedagang di Kulonprogo terjaring razia petugas kedapatan menjual mi yang mengandung bahan berbahaya. Tepatnya di Pasar Brosot, petugas berhasil menemukan mendapati 10 kilogram mie basah dan 2 kilogram ikan asin ternyata positif mengandung pengawen jenis formalin.

Temuan yang serupa juga terjadi di Pasar maesan, Desa Bumirejo, Lendah. Petugas menemukan 4 kilogram mi yang positif mengandung formalin. Semua temuan itu akhirnya disita dari tangan pedagang. Dan disebutkan kalau pedagang yang kena razia ini kulakan dari pasar Giwangan.

Kepala Bidang Bimbingan Usaha, Pengawasan, Pengendalian Perdagangan (Bimus P3) Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Yogyakarta, Sri Harnani mengatakan, kalau pihaknya akan segera turun tangan untuk melakukan pengecekan mi berbahan berbahaya ini apakah ada di pasar Kota Yogyakarta.

Sri Harnani menjelaskan kalau untuk pengecekan rutin telah dilakukan pihaknya di sejumlah pasar. Namun untuk bahan makanan basah seper mi ini, harus melibatkan BPOM DIY. Karena pemantauan jenis bahan makanan basah membutuhkan uji Laboratorium. “Tidak hanya melihat dari fisik saja. Namun, harus ada uji laboratorium,” jelasnya (1/6/17)

Dijelaskan pula, untuk menangani peredaran mi formalin ini pihaknya tidak bisa bergerak sendiri. Karena itulah akan menggandeng pihak Kepolisian. Hal ini ddikarenakan harus ada penelusuran menyeluruh hingga sampai menemukan dimana pabrik tempat produksi mi berformalin ini.

Sedangkan untuk penindakan, pihaknya harus melihat dulu apakah di pasar hanya sebagai tengkulak atau produsen. “Kalau hanya menjual, kami akan telusuri dari mana pasokan barangnya. Kami juga kerap menyampaikan kepada pedagang untuk menjual bahan makanan yang sehat pada konsumen,” tegasnya.

Agung Pratnyawan on FlickrAgung Pratnyawan on GoogleAgung Pratnyawan on InstagramAgung Pratnyawan on Twitter
Agung Pratnyawan
Content Writer
Freelance Content Writer and Web Developer

Agung Pratnyawan

Freelance Content Writer and Web Developer

You May Also Like