Belajar Mengantisipasi Kerusakan Tsunami Dari Jepang

-dindaagustriyana.wordpress.com-

belajar dari tsunami Jepang pada 2011, tsunami bisa merusak, bahkan melumpuhkan bandara di kota Sendai. Karena itu, pembangunan obyek vital, seperti bandara baru Yogyakarta, mesti memperhitungkan risiko tsunami.

Menurut Sekretaris Daerah Kabupaten Kulon Progo Astungkoro, di Kulon Progo, seperti dikutip kantor berita Antara, menyebutkan, ancaman tsunami tak memengaruhi rencana pembangunan bandara oleh PT Angkasa Pura. ”Semua situasi bencana diperhitungkan mulai dari api, banjir, angin, hingga tsunami. Kalau soal tsunami membuat orang tak berkembang, akan jadi daerah tertinggal.”

Gubernur Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono X pun mengatakan, aspek ancaman tsunami itu sudah diperhitungkan dalam rencana pembangunan bandara, termasuk akan membangun tanggul. ”Kalau enggak dipikirkan, berarti semua bodoh,” kata dia, seperti dikutip Kompas (12/6).

Sebetulnya pembangunan tanggul tak efektif mengatasi tsunami skala besar. ”Tak ada satu jenis struktur yang mampu secara sempurna menahan tsunami jika ketinggian lebih dari 5 meter. Untuk selatan Jawa, dari studi saya, potensi ketinggian gelombang tsunami bisa 9 meter. Satu-satunya cara menanggulangi dampak tsunami adalah kombinasi beragam infrastruktur.

Seperti di Sendai, Jepang akan dibangun minimal tiga tanggul di dataran rendah Sendai. Lapis pertama adalah tanggul di bibir pantai (setinggi 7 m) dan di belakangnya dibangun bukit-bukit buatan (15-20 m) yang akan ditanami pohon sebagai sabuk hijau sampai jarak 1 km dari bibir pantai. Lalu, tanggul kedua, yakni jalan sejajar pantai yang ditinggikan jadi 6,4 m. Terakhir, jalan tol Sendai setinggi 4 meter.

jogupcom on Instagramjogupcom on Tumblr
jogupcom
Adminnya JogjaUpdate

jogupcom

Adminnya JogjaUpdate

You May Also Like