Awarding Night Festival Film Disabilitas

Yogyakarta (05/01/15), Festival Film Disabilitas, atau biasa disebut FFDIS, adalah ruang untuk membangun, menyatukan, dan mengumpulkan sinergi kepedulian akan isu disabilitas. Ditahun yang kedua  dengan tema ‘partisipasi, kolaborasi, dan inovasi’, bila setahun lalu bersama membangun, maka festival kedua ini berusaha menyebarkan isu-isu disabilitas, terutama isu masyarakat inklusi.
Berbagai film dokumenter dikutsertakan oleh para film maker dalam Festival Film Disabilitas yang didukung oleh United Cerebral Palsy-Roda Untuk kemanusiaan Indonesia. Sejumlah karya film yang mengangkat tema difabilitas itu cukup membantu memberi pandangan tentang kehidupan para difabel di Indonesia, tentu dalam sudut pandang yang beragam.

Sejumlah 29 karya film, baik dokumenter maupun fiksi turut serta memeriahkan FFDIS #2. Yang menarik, beberapa diantara film itu adalah karya pelajar dari berbagai SMU/SMK di Indonesia.

karya film yang diikutkan dalam FFDIS bisa dimanfaatkan untuk membantu kampanye pemenuhan hak-hak kelompok difabel di Indonesia. Biarpun beberapa karya film, khususnya kategori film fiksi masih menjadikan difabel hanya sebagai obyek film, dan terkesan sangat mendramatisir. demikian menurut Pambudi, Direktur FFDIS. Lebih lanjut, Pambudi mengatakan bahwa ragam cara pandang terhadap difabel dalam film yang sertakan dalam FFDIS #2 itu menunjukan representasi pandangan masyarakat secara terhadap difabel yang masih menjadikan difabel sebagai entitas yang berbeda.

Lebih lanjut, Pambudi mengatakan bahwa ragam cara pandang terhadap difabel dalam film yang sertakan dalam FFDIS #2 itu menunjukan representasi pandangan masyarakat secara terhadap difabel yang masih menjadikan difabel sebagai entitas yang berbeda.

Talkshow dalam Festival Film Disabilitas yang dilaksanakan pada hari Rabu (07/01/15) dan akan dihadiri oleh orang yang pro masyarakat inklusi, seperti GKR Hemas, Walikota Yogyakarta, Budayawan Den Baguse Ngarso, Noe Letto, Aktivis difabel, Pemerintah (Dinas PU, perhubungan, pariwisata dan lain-lain).

Den Baguse Ngarso akan memoderatori bincang-bincang dengan tidak menggurui dan senantiasa mengingatkan kita akan nilai kesetaraan dan kemanusiaan dengan balutan seni dan budaya, Den Baguse Ngarso dipilih karena punya kekhasan dalam menyajikan perbincangan yang rumit seperti isu difabel dan kemanusiaan. Bincang-bincang ini akan berujung pada Deklarasi bersama “Jogja Ramah Difabel: Jogja For All”

jogupcom on Instagramjogupcom on Tumblr
jogupcom
Adminnya JogjaUpdate

jogupcom

Adminnya JogjaUpdate

You May Also Like